Kamis, 05 Desember 2013

Jeruk Sambas Kalbar

Jeruk Sambas Kalbar Ada Apa dengan Flora dan Jeruk Sambas di Kalimantan Barat ? Indonesia dari dulu dikenal sebagai paru-paru dunia karena termasuk sebagai salah satu negara yang memiliki jenis flora terbanyak. Salah satu penyumbang varietas flora terbanyak ialah Kalimantan Barat yang juga dikenal dengan Bumi Khatulistiwa karena berada tepat pada 0o Lintang Utara. Banyaknya varietas tersebut mungkin disebabkan oleh wilayah Kalimantan yang merupakan pulau terluas di Indonesia. Yakni lebih kurang seluas 743.330 km2 (Badan Geografis dalam wapedia.mobi/id/Pulau_Kalimantan). Dapat kita lihat, dengan banyaknya pecinta flora yang memburu berbagai jenis tanaman yang hanya berinduk di tanah Kalimantan. Contohnya, tanaman anggrek bulan ataupun anggrek hitam yang langka. Selain itu juga ada kelapa sawit yang menjadi komoditas subsektor yang banyak jadi incaran investor dan juga lidah buaya yang merupakan hasil potensi alam yang siap menjadi produk unggulan Kalimantan Barat. Hal tersebut didukung oleh wilayah yang cukup luas. Dengan modal utama berupa komoditas dan tanah yang luas sudah seharusnya Kalimantan Barat meimiliki komoditas unggulan yang siap dilepas ke pasar internasional (Go International). Maka dari itu, kita sebagai generasi muda harus siap untuk mengembangkan kebudayaan agraris. Dalam sejarahnya, Kalimantan Barat memiliki primadona dunia berupa produk agraris seperti karet dan kopra. Bahkan pada abad ke-20, karet Kalimantan Barat menjadi komoditas ekspor utama. Tapi sayangnya, karena permintaan dunia menurun maka pembudidayaan tanaman tersebut juga ikut menurun. Akibatnya, Kalimantan Barat hampir kehilangan primadona produk agraris tersebut. Tapi tenang saja, masyarakat Kalimantan Barat tidak berhenti sampai disini karena di Kabupaten Sambas para petani mulai mengembangkan hasil produksi jeruk yang memiliki kadar vitramin C dan A yang cukup tinggi. Kabupaten Sambas yang kini terkenal sebagai Sentra Jeruk Pontianak dalam sejarahnya pernah mencapai masa keemasan pada 1992. Bahkan, produksi jeruk yang melimpah ini telah didistribusikan ke Pulau Jawa (www.damandiri.or.id/detail.php). Permasalahannya kini, mengapa Jeruk Sambas tidak seperti karet dan koprah yang menjadi primadona pada zaman Hindia-Belanda? Tentu saja jawabannya adalah ketidakpedulian banyak orang untuk mengembangkan jeruk. Jika begitu, mengapa tidak kita saja sebagai generasi penerus bangsa yang mengembangkannya? Apa pula yang terjadi dengan petani dan pemerintah? Di mana pula peran masyarakat untuk mewujudkan kembali Kalimantan Barat yang memiliki primadona flora? Walaupun begitu ternyata di Kabupaten Sambas jeruk ini telah dibudidayakan secara luas dan turun-temurun dari generasi ke generasi tidak hanya oleh orang-orang tua melainkan pula oleh generasi muda. Itu menunjukkan bahwa pembudidayaan jeruk Sambas di Kabupaten Sambas merupakan suatu bentuk budaya agraris yang tertanam hingga kini. Penulis percaya jeruk Sambas bisa menjadi produk unggulan yang akan dikenal oleh masyarakat luar tidak hanya sebagai produk konsumsi tetapi juga produk industri di dalam dan luar negri. Tanaman ini bisa lebih mendunia jika dapat memberikan jaminan keuntungan bagi para investor karena suatu produk yang dianggap sebagai komoditas unggulan berarti bernilai tinggi di mata konsumen. Dengan begitu, petani-petani jeruk Sambas tidak lagi kesusahan dalam mencari modal. Hal itu juga akan mencegah permonopolian harga yang sering menyebabkan harga jeruk menjadi rendah serta menurunkan dan menghancurkan produksi jeruk. Citrus nobilis var. microcarpa Siap ke Pasar Internasional a. Yun Kun Sang Pembawa Bibit Sejarahnya, pengembangan jeruk Siam yang kemudian di daerah Kalimantan Barat dikenal dengan jeruk Sambas ataupun di luar Kailmantan Barat disebut jeruk Pontianak telah dilakukan sejak tahun 1936 di Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Bibitnya berasal dari negara Republik Rakyat Cina yang di bawa oleh Yun Kun, Bun Kim, dan Bon Kim In di Desa Segaran. Adapun pengembangannya dilakukan oleh H. A. Rani dan Lim Kim Sim di Desa Bekut pada tahun 1994 (Sarwono, 1986:14). Hingga awal tahun 1950 jeruk siam telah berhasil dibudidayakan hingga mencapai 1.000 ha. Namun, pada tahun 1960 hasil jeruk Sambas mengalami penurunan karena sebagian besar pohon jeruk ditebangi yang terserang wabah penyakit berupa penyakit getah jeruk dan beberapa hama-hama tanaman yang juga turut serta menghambat tumbuhnya jeruk Sambas. Pada tahun 1979 perkebunan jeruk dikembangkan kembali sampai tahun 1996 hingga mengalami masa kejayaan dengan mencapai 10.000 ha yang berproduksi 26.000 ton per tahun. Setelah itu masih di tahun yang sama produksinya jeruk ini mulai anjlok akibat monopoli sistem tata niaga jeruk yang menyebabkan harga ditingkat petani jatuh serta total pendapatan pun tidak cukup membiayai pengeluaran. Oleh karena itu, para petani membiarkan pohon jeruk mereka merangas mati yang juga diperparah dengan datangnya hama penyakit (http://id.wikipedia.org/wiki/Jeruk_pontianak). Berdasarkan rencana pengembangan produk unggulan daerah Kabupaten Sambas, untuk pengembangan komoditas jeruk pemerintah mengizinkan dibukanya 7.844 ha yang masih mungkin diperluas. b. Bagaimana Cara Penanaman Jeruk Sambas? Tahukah kalian bahwa jeruk Sambas memiliki hasil produksi yang sangat banyak! Walaupun tidak hanya tumbuh di Kalimantan Barat jeruk Sambas ini lebih subur dan hasil produksinya lebih banyak jika di hasilkan dari tanah khatulistiwa. Hal itu dikarenakan jeruk ini lebih menyukai air tanah yang tidak terlalu dalam seperti di Tebas, Kabupaten Sambas yang tidak jauh dari laut karena jeruk Sambas akan menghasilkan buah yang lebih baik jika berada 700 meter di atas permukaan laut serta dengan pH tanahnya 5-7,5. Selain itu, jeruk ini memerlukan banyak sinar matahari sebab jika daerah penanamannya memiliki udara yang lembab maka pembuahan akan terhambat oleh serangan hama terutama kutu perisai dan kutu-kutu penghisap lainnya (Tim Penulis PS, 2005:12). Adapun mengenai proses pembibitan jeruk dilakukan dengan pemilihan cangkokan dari pohon jeruk yang sehat atau subur dan berasal dari benih pohon jeruk yang baik atau pohon yang masih produktif. Cangkokan yang diambil dari pohon jeruk tersebut, sudah berakar yang cukup kuat untuk kelangsungan hidupnya, serta disemaikan pada areal persemaian yang telah disiapkan atau dengan memakai kantong polibek yanng telah si dengan tanah yang telah digemburkan. Selain itu, apabila umur persemaian sudah mencapai 2-3 bulan, cangkokan tersebut sudah kelihatan bertunas dan berdaun yang subur, maka pada saat itulah dapat dipindahkan ke lokasi areal perkebunan. Sebulan sebelum persemaian dipindahkan ke lokasi perkebunan, areal perkebunan sudah harus diolah dengan persiapan seperti pembuatan terumbu’ (tanah yang ditinggikan). Sementara proses penanamannya, petani Sambas memiliki cara yang unik yaitu dengan sistem terumbu’. Terumbu’ adalah tanah yang ditinggikan yang berupa tumpukan-tumpukan tanah setinggi lebih kurang 35 cm dan ukuran garis tengah sekitar 1 meter agar akar tanaman jeruk tidak mengalami pembusukan yang berdampak pada pembuahannya. Untuk jaraknya, antara terumbu’ satu dengan terumbu’ lainnya sekitar 4.5 meter sampai dengan 5 meter. Hal ini dapat disesuaikan dengan keadaan dan tingkat kesuburan tanah tersebut. Sistem terumbu’ didampingi oleh sistem irigasi yang berbeda. Pengirigasian yang ada dilokasi pengembangan jeruk di Kabupaten Sambas umumnya masih irigasi sederhana dengan sumber air yang berasal dari air sungai atau air pasang surut. Sebagian kecil lainnya mengandalkan air hujan. Meski demikian, letak permukaan air yang relatif tidak terlalu dalam memungkinkan adanya penggunaan teknologi berupa pembuatan saluran-saluran pembuangan air di sekitar area perkebunan. Saluran-saluran pembuangan air dibuat dengan ukuran lebar 40 cm dan kedalamannya 30 cm. Jarak antara satu saluran dengan saluran lainnya sekitar 10 meter. Setelah menanam, proses pemupukan dan perawatan merupakan tahap yang tidak boleh diremehkan. Sama seperti halnya dengan perkebunan jeruk lainnya, hanya saja pada penanaman jeruk Sambas ini, sebelumnya tanah terumbu’ tempat penanaman bibit jeruk itu harus sudah digemburkan terlebih dahulu dengan mencampurkan pupuk TSP sebanyak 0.5 sampai dengan 1 ons dalam masing-masing terumbu’ (asnaini 1994:27-32). Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa jeruk Sambas benar-benar masih alami tanpa ada campur tangan teknologi serta bahan kimia lainnya untuk pencegahan penurunan kualitas jeruk seperti yanng lainnya (http://www.deptan.go.id/pesantren/ditbuah/Komoditas/Sentra/profil_jeruk_di_kabupaten_sambas.htm). c. Mengapa Harus Citrus microcarpa ? Berbentuk bulat dengan rasa buah yang manis keasaman, memiliki warna kulit hijau kekuningan serta warna dagingnya yang berwarna oranye, buah apakah itu? Sudah dapat ditebak dengan keunikan yang dimilikinya buah ini ialah buah jeruk Sambas (http://www.kapanlagi.com/h/0000208204.html). Karena keunggulannya, jeruk Sambas memiliki popularitas yang cukup baik di dalam maupun luar negri (ASEAN). Seperti yang kita tahu, salah satu keunggulannya adalah masa produk aktivitasnya yang cukup lama sekitar 15-20 tahun dengan Benefit Cost Ratio (BCR). Itu berarti, pohon jeruk Sambas dapat terus menghasilkan dalam kurun waktu 15-20 tahun. BCR jeruk Sambas ini merupakan yang tertinggi di Kalimantan Barat dibanding komoditas pertanian lainnya. Selain itu harga di pasaran relatif stabil dan cenderung terus meningkat (http://id.wikipedia.org/wiki/Jeruk_pontianak). Oleh karena itu, buah jeruk banyak dijumpai di Indonesia bahkan dapat menduduki seluruh wilavah di dunia. Selama ini yang bisa diambil hasiInya dari tanaman jeruk adalah buahnya, sedangkan kulit buah tersebut dibuang begitu saja. Nilai gizi kulit jeruk cukup baik serta banyak mengandung unsur-unsur kimia berupa seng yang dapat dikembangkan untuk pembuatan plastik. Selain itu, kulit jeruk Sambas juga dapat dibuat menjadi Kalsium Karbonat dan dapat mernberikan manfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan industri pasta cat dan bedak pengisi kertas. Mengenai pembuatan plastik, para ahli kimia di Cornell University sudah menemukan formula baru pembuat plastik di luar bahan baku minyak bumi. Ternyata, alam telah menyediakan suatu alternatif ramah lingkungan, dalam bentuk jeruk. Untuk menciptakan plastik baru yang disebut polylimonene karbonat itu, para ilmuwan memanfaatkan molekul dari dua sumber, karbon dioksida dan limonene oksida, yang berasal dari kulit buah jeruk dan tanaman lain. Limonene adalah bahan yang selalu tersedia, demikian juga karbon dioksida. Seorang profesor kimia dari Cornell, Geoffrey Coates, menyatakan telah membuat katalisator yang memungkinkan dua macam molekul ini bersatu sebagai bahan pembuat plastik. Katalisator yang dipakai dalam proses kimia ini berupa senyawa yang mengandung sedikit seng (Zinc) yang dicampurkan dalam cairan limonene oksida dan gas karbon dioksida sehingga membentuk bubuk putih. Bubuk ini bisa dicairkan dan digunakan membuat berbagai macam barang plastic. Tim riset Cornell kini sedang melakukan uji coba untuk melihat seberapa kuat bahan ini menahan panas dan dingin. Rincian mengenai penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of the American Chemical Society (http://64.203.71.11/teknologi/news/0501/31/213903.htm) Adapun proses pembuatan Kalsium Karbonat dilakukan dengan mengeringkan kulit buah jeruk hingga menjadi abu dan kemudian dicampur dengan asam sulfat, lalu dipanaskan dan dilarutkan dalam asam oksalat sesuai variabel, kemudian dipanaskan kembali sesuai dengan variabel suhu. Endapan yang terjadi dipanaskan pada suhu 600oC hasilnya dianalisa secara gravimetric. Adapun setiap pembuatan kalsium karbonat dengan berat abu 10 gram maka digunakan asam Sulfat 4 N : 100 ml kondisi optimum dengan konsentrasi asam oksalat 14%. Suhu yang digunakan setinggi 100oC. Sementara waktu pencampuran dilakukan sekitar 35 menit. Komposisi tersebut akan menghasilkan kalsium karbonat sebesar 94,71% (http://digilib.upnjatim.ac.id/gdl.php). Selain produk yang telah dijelaskan di atas, jeruk Sambas dapat juga dikembangkan menjadi jus jeruk karena hasil produksinya yang banyak serta berbagai penelitian yang menunjukkan senyawa non-gizi dikandung buah jeruk yang ternyata mampu menurunkan risiko beberapa penyakit, bahkan mampu mencegah kanker. Selain vitamin C, buah jeruk juga mengandung sederet zat gizi esensial, seperti beta karoten (pro vitamin A) yang akan menjaga kesehatan mata dan kulit serta membantu pembentukan tulang. Selain itu jeruk juga mengandung thiamin (vitamin B) yang berperan sebagai tenaga bagi sistem saraf dan otak, selain itu thiamin akan mengurangi risiko katarak. Jeruk juga tidak mengandung sodium, lemak, dan kolesterol. Oleh sebab itu, pemkab Sambas mencanangkan adanya produksi jus jeruk yang diberi nama Jus Citrus van Sambas; Minuman Kesehatan Membuat Awet Muda sebagai minuman resmi Pemda dan masyarakat Kabupaten Sambas. Di komplek rumah produksi Citrus van Sambas di Desa Segedong Kecamatan Tebas, juga akan dihadiri oleh Kepala BPTP Kalbar. Bahkan, menurutnya, akan dilakukan penandatangan MoU dengan dinas dan instansi selaku pelanggan. Mereka berharap jus jeruk ini dapat menjadi lambang Kabupaten Sambas maupun Kalbar nantinya sehingga jeruk Sambas mempunyai daya saing tinggi dengan buah-buahan lain (http://www.pontianakpost.com/index.php). Produk yang tidak kalah populernya ialah minyak wangi. Sebuah penelitian mengenai wewangian menunjukkan bahwa bau harum sejenis jeruk bali yang dipakai wanita akan membuatnya tampak lebih muda di mata para pria yakni sekitar enam tahun lebih muda. Dengan ini mengapa tidak kita ganti saja aroma jeruk Bali dengan Aroma terapi jeruk Sambas yang akan dikenal lebih elegan. Sebuah penelitian yang dilakukan Institut Rasa dan Bau di Chicago dimaksudkan untuk mencari tahu apa yang membuat seorang wanita berbau lebih muda, tapi tidak kekanak-kanakan seperti bau permen karet. Akan tetapi ketika Hirsch menyemprotkan bau jeruk, persepsi para pria segera berubah. Ketika mereka diminta menebak usia para wanita yang menebarkan wangi jeruk itu, kebanyakan mencantumkan usia lebih muda dari kondisi sebenarnya rata-rata enam tahun lebih muda. Ini membuat Hirsch berkesimpulan, wangi jeruk akan memberi persepsi muda. Barangkali kesegaran jeruk dianalogikan sebagai kemudaan oleh para pria. Oleh karena itu, bila Anda ingin dikesan lebih muda, gunakanlah wewangian yang beraroma jeruk, bisa sitrun, bergamot, tangerine, dan lainnya (http://64.203.71.11/teknologi/news/0506/22/121720.htm). Oleh sebab itu, sudah sepantasnya kita sebagai generasi muda mulai memberanikan diri untuk terjun ke bidang industri dalam pengembangan jeruk agar kita tidak lagi bergantung terhadap produksi luar negri, seharusnya industri di luar negrilah yang bergantungan kepada kita. Lagi pula bahan-bahan yang dihasilkan di ekspor dari negeri kita juga kan !. Dengan banyaknya jenis produksi yang bisa dihasilkan dari jeruk maka keberadaan Citrus Center sebagai pusat riset dan pengembangan komoditas jeruk di Kabupaten Sambas dibutuhkan untuk lebih mengembangkan hasil produksi dari jeruk Sambas. Melalui fasilitasi dan bimbingan yang diberikan, banyak petani jeruk di Sambas yang bisa meraup keuntungan lebih. Pada kegiatan safari Ramadan lalu, Gubernur Kalbar, Cornelis sempat meninjau langsung lokasi Citrus Center di Kecamatan Semparuk, Sambas. Meski masih dalam proses pengembangan dan pembangunan beberapa fasilitas pendukung lainnya, keberadaan Citrus Center sendiri sudah beroperasi beberapa tahun lalu (http://corneliscenter.blogspot.com/2008/09/citrus-center-buktikan-industri-jeruk.html) JAWABAN DARI KRISIS KOMODITAS KAL-BAR SELAMA INI! Bupati Sambas Burhanuddin Ar Rasyid menyatakan bahwa pemerintah Kabupaten Sambas mengharapkan Citrus center menjadi pusat perjerukan bukan saja di Kalbar, tetapi juga di Indonesia. Sebab, inilah pusat penelitian, pengembangan, dan produksi jeruk yang terpadu juga dapat membantu petani jeruk dalam mengatasi persoalan tentang perjerukan. Sehingga dapat menunjang mereka serta juga bisa diperkenalkan pula tentang penanaman dengan teknologi terkini dalam bentuk pengaturan tentang pemupukan hingga pemasaran. Walaupun, terdapat beberapa kendala seperti, pemasaran yang sedikit terhambat juga hasil produksi yang dihasilkan jeruk Sambas tidak sepanjang tahun. Salah satu kendala pemasaran jeruk di Kalimantan ialah infrastruktur jalan yang buruk. Kalbar merupakan satu-satunya provinsi yang belum terhubungkan dengan provinsi lain melalui jalan darat. Sehingga jika pemasaran antar-Kalimantan itu sendiri akan lebih mahal dibandingkan ke Pulau Jawa. Ini diakibatkan karena distributor harus menggunakan penerbangan ke Jakarta terlebih dahulu sebelum ke daerah lain di Kalimantan. Selain itu, seharusnya pemasaran jeruk juga dapat dilakukan ke kawasan pedalaman Kalbar. Namun, sarana transportasi darat menuju pedalaman masih hancur (http://64.203.71.11/kompas-cetak/0605/05/daerah/2630610.htm). Hal Inilah yang merupakan salah satu kendala yang menyebabkan adanya ketidak makmuran para petani perkebunan Jeruk Sambas. Pada pemasaran ini harus diadakan pengembangan produk turunan yang berupa olahan-olahan yang berguna. Maka peluang dalam pengolahan jeruk ini bisa lebih dikembangkan dalam membentuk produk-produk seperti yang ditemukan oleh orang-orang dari luar negri. Oleh sebab itu, kita harus lebih produktif dalam pengembangan produk. Seperti membuat aroma sabun mandi yang berjudul aroma jeruk sambas yang mungkin saja akan lebih diminati kaum wanita baik tua maupun muda. Tidak hanya itu, kita juga bisa membuat sampo dari kulit jeruk Sambas, yang telah diteliti bahwa kulit jeruk sambas dapat memperkuat rambut agar tidak cepat rontok karna mengandung seng. Kendala lainnya, yaitu hasil produksi yang tidak didapat sepanjang tahun, ini disebabkan karena cuaca serta tidak adanya peremajaan pada pohon tersebut sehingga produktivitas tanaman menurun yang juga menyebabkan hancurnya perdagangan jeruk. Padahal jika diamati dengan seksama sifat fisika tanah tempat sentra produksi jeruk umunya adalah tanah yang memiliki porositas dan drainase yang baik. Seperti halnya di tanah Khatulistiwa Kalimantan Barat (www.damandiri.or.id/detail.php). Jadi untuk mengembangkan jeruk Sambas menjadi komoditas unggulan Kalbar maka diperlukan dukungan pemerintah pusat dan daerah. Dukungan terbesar diharapkan dapat membantu petani dalam pengembangan tanaman jeruk Sambas khususnya mengenai pengadaan bibit bermutu (okulasi) dan pupuk serta penetapan peraturan pemerintah dalam hal standar harga buah jeruk dan jaminan pemasaran (http://www.deptan.go.id/pesantren/ditbuah/ Komoditas/Sentra/profil_jeruk_di_kabupaten_sambas.htm). Lagi pula jika Jeruk Sambas bisa lebih mendunia ini merupakan peluang besar untuk kaum muda yang belum memiliki pekerjaan. Hal ini juga bisa membantu dalam pengurangan angka pengangguran di daerah-daerah tersebut.

Suku Sambas

Suku Sambas Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Suku Melayu Sambas Jumlah populasi kurang lebih 700.000. Kawasan dengan populasi yang signifikan Kabupaten Sambas Bahasa Indonesia, Melayu, dan lain-lain. Agama Islam Kelompok etnik terdekat Dayak, Melayu Suku Sambas (Melayu Sambas) adalah suku bangsa atau etnoreligius Muslim yang berbudaya melayu, berbahasa Melayu dan menempati sebagian besar wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kota Singkawang dan sebagian kecil Kabupaten Pontianak- Kalimantan Barat. Suku Melayu Sambas terkadang juga disebut Suku Sambas, tetapi penamaan tersebut jarang digunakan oleh masyarakat setempat. Secara liguistik Suku Sambas merupakan bagian dari rumpun Suku Dayak, khususnya dayak Melayik yang dituturkan oleh 3 suku Dayak : Dayak Meratus/Bukit (alias Banjar arkhais yang digolongkan bahasa Melayu), Dayak Iban dan Dayak Kendayan (Kanayatn). Tidak termasuk Banjar, Berau, Kedayan (Brunei), Senganan, Sambas yang dianggap berbudaya Melayu. Sekarang beberapa suku berbudaya Melayu yang sekarang telah bergabung dalam suku Dayak adalah Kutai, Tidung dan Bulungan (keduanya rumpun Borneo Utara) serta Paser (rumpun Barito Raya). Pada awalnya Sambas bukanlah nama suku, akan tetapi nama tempat/wilayah dan nama Kerajaan yang berada tepat di pertemuan 3 sungai yaitu sungai Sambas Kecil, sungai Subah dan sungai Teberau yang lebih dikenal dengan Muara Ulakan. Seluruh masyarakat asli Kalimantan sendiri sebenarnya adalah Serumpun, Antara Ngaju, Maanyan, Iban, Kenyah, Kayatn, Kutai ( Lawangan - Tonyoi - Benuaq ), Banjar ( Ngaju, Iban , maanyan, dll ), Tidung, Paser, dan lainnya. Hanya saja Permasalahan Politik Penguasa dan Agama menjadi jurang pemisah antara keluarga besar ini. Mereka yang meninggalkan kepercayaan lama akhirnya meninggalkan adatnya karena lebih menerima kepercayaan baru dan berevolusi menjadi Masyarakat Melayu Muda. Khususnya dalam Islam maupun Nasrani, hal - hal adat yang bertolak belakang dengan ajaran akan ditinggalkan. Sedangkan yang tetap teguh dengan kepercayaan lama disebut dengan Dayak. Adat-istiadat lama Suku Melayu Sambas banyak kesamaan dengan adat-istiadat Suku Dayak rumpun Melayik misalnya; tumpang 1000, tepung tawar, dan lainnya yang bernuansa Hindu. Secara administratif, Suku Sambas merupakan suku baru yang muncul dalam sensus tahun 2000 dan merupakan 12% dari penduduk Kalimantan Barat, sebelumnya suku Sambas tergabung ke dalam suku Melayu pada sensus 1930. Sehubungan dengan hal tersebut kemungkinan "Dialek Melayu Sambas" meningkat statusnya dari sebuah dialek menjadi bahasa kesukuan yaitu Bahasa Suku Sambas. Perubahan Suku Sambas secara drastis setelah masuk Islam, hampir menghapus jejak asal muasalnya yaitu Suku asli yang mendiami pulau Kalimantan. Kebudayaan Melayu yang dianggap lebih "beradab", membantu menghilangkan budaya Dayak pada Suku Sambas dengan cepat. Sehingga Sambas yang dahulunya beragama Hindu Kaharingan kehilangan jejak Kaharingan, walaupun sebagian kecil ada yang tersisa. Akibatnya orang lebih yakin Sambas adalah Melayu, padahal tidaklah demikian. Tentu saja segala hal dalam adat lawas dianggap syirik (bertentangan dengan agama) jadi harus dimusnahkan dan ditinggalkan. Sulitnya data semakin mempersulit para peneliti untuk mencari jejak asal muasal Suku Sambas. Membuat hasil penelitian terlihat ambigu bahkan samar. Peneliti seringkali mengklasifikasikan berdasarkan bahasa, sedangkan menurut orang Kutai dan Tunjung-Benuaq mengenal tradisi lisan yang mengklasifikasikan golongan berdasarkan budaya dan sejarah budayanya serta geneologi. Oleh karena itulah Suku Sambas diklasifikasikan ke dalam suku Dayak berbudaya Melayu. Namun, berdasarkan kajian dengan pendekatan sejarah, asal usul masyarakat yang sekarang disebut Melayu Sambas adalah hasil asimilasi beberapa suku bangsa di Nusantara yaitu yang sekarang disebut Melayu Sambas adalah asimilasi dari Orang Melayu (yang datang dari Sumatera sekitar abad ke-5 M hingga 9 M pada masa Kerajaan Malayu atau masa awal Kerajaan Sriwijaya), Orang Dayak (penduduk lebih awal yang secara turun temurun sebelumnya telah mendiami Sungai Sambas dan percabangannya), Orang Jawa (yaitu serombongan besar Bangsawan Majapahit keturunan Wikramawardhana bersama para pengukutnya yang melarikan diri secara boyongan dari Majapahit karena perang sesama Bangsawan di Majapahit pada awal abad ke-15 M yang kemudian mendirikan sebuah Panembahan di wilayah Sungai Sambas) serta Orang Bugis (para Nakhoda dan pembuat kapal bersama keluarganya dari Sulawesi yang kemudian membentuk sebuah perkampungan Bugis yang bekerja untuk Sultan-Sultan Sambas di masa awal dan pertengahan Kesultanan Sambas). Masyarakat Melayu Sambas secara Budaya dan Intelektual adalah yang terkemuka di Kalimantan Barat, beberapa budaya Melayu Sambas yang masih populer di kalangan Masyarakat Kalimantan Barat dari dulu (masa Kerajaan) hingga sekarang diantaranya adalah Kain Khas yaitu yang disebut Kain Sambas / Kaing Lunggi / Kain Songket Sambas, Makanan Khas yang disebut Bubbor Paddas / Bubur Pedas (dengan khas menggunakan daun Kesum / daun Kesuma), Lagu-Lagu Daerah Sambas (dari masa lampau / Kerajaan) sangat mendominasi khazanah lagu-lagu daerah di Kalbar hingga sekarang disamping Lagu-lagu daerah Dayak dan banyak lagu-lagu daearah Sambas itu adalah berstatus anonim yang tidak diketahui siapa pembuatnya karena sudah begitu lama yang dilantunkan secara turun temurun dari generasi ke generasi seperti Lagu Alok Galing, Cik cik Periuk, Kapal Belon dan lainnya, Tarian Daerah Khas Sambas seperti Tandak Sambas, Jepi dan lainnya. Pada masa Kerajaan (Kesultanan Sambas) masyarakat Melayu Sambas juga terkenal sangat Agamis (Islam) yang paling terkemuka di Kalimantan Barat sehingga sempat disebut sebagai "Serambi Makkah" Kalimantan Barat dimana jejak kejayaan itu yang masih nampak pada sekitar tahun 80-an dimana Qori-qori dari Sambas cukup mendominasi dalam mewakili Kalimantan Barat di tingkat Nasional dan Internasional. Sedangkan di masa Kerajaan, Kesultanan Sambas adalah sebuah Kerajaan Maritim (Pesisir) yang sempat menjadi Kerajaan terbesar di wilayah Borneo Barat (Kalimantan Barat) selama sekitar 100 tahun (dari awal tahun 1700-an hingga awal tahun 1800-an). Urutan Kerajaan-Kerajaan terbesar di Kalimantan Barat dari awal adalah Kerajaan Tanjung Pura yang setelah runtuh dilanjutkan oleh Kesultanan Sukadana, lalu ketika Kesultanan Sukadana melemah posisi Kerajaan terbesar di Kalimantan Barat itu dipegang oleh Kesultanan Sambas yang kemudian setelah masuknya Belanda ke wilayah Kalimantan Barat pada tahun 1818 posisi Kerajaan terbesar di Kalimantan Barat beralih dipegang oleh Kesultanan Pontianak. Kesultanan Sambas berdiri pada tahun 1671 M yang kemudian memerintah selama sekitar 279 tahun melalui Pemerintahan 15 Sultan-Sultan Sambas dan 2 Ketua Majelis Kesultanan Sambas secara turun temurun hingga kemudian berakhirnya Pemerintahan Kesultanan Sambas dengan bergabung ke dalam Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun 1950. Kabupaten Sambas terkenal dengan sebuah peninggalan sejarah yaitu sebuah keraton peninggalan Kesultanan Sambas. Penduduknya mayoritas melayu, dan berbahasa melayu. Sebagian besar bahasa yang digunakan adalah sama. Bahasa Melayu sangat mudah dipahami, apalagi bagi orang yang mendengar orang Betawi berbicara, karena kurang lebih bahasa Betawi dan Melayu sama, misalnya: Seseorang berbicara, "Kamu mau ke mana?", jika dalam bahasa melayu "Kau nak ke mane", (penyebutan "e" dalam bahasa melayu, sedangkan bahasa suku Sambas membunyikan "e" seperti bunyi pada kata "lele". Keunikan lain dari bahasa Melayu Sambas adalah pengucapan huruf ganda seperti dalam Bahasa [Melayu] Berau di Kalimantan Timur, seperti pada kata 'bassar' (artinya besar dalam bahasa indonesia).

Tradisi Jamuan Makan Saprah Masyarakat Melayu Sambas

Tradisi Jamuan Makan Saprah Masyarakat Melayu Sambas Tradisi makan ber-Saprah sangat akrab dalam tradisi masyarakat Melayu Sambas. Masyarakat Melayu Sambas secara teritorial mendiami kawasan sepanjang pesisir pantai utara Kalimantan Barat. Tradisi ber-Saprah biasanya di lakukan pada acara-acara tertentu, seperti acara pernikahan, acara tepung tawar, sunatan, antar pinang, selamatan dan acara lainnya. Jamuan Makan Berkelompok Jamuan makan Saprah masih bisa ditemukan dalam tradisi masyarakat melayu Sambas hingga kini. Kata Saprah sendiri merupakan ungkapan untuk menggambarkan jamuan makan khas melayu yang dilakukan secara berkelompok dengan duduk bersila di lantai. Dalam beberapa jamuan Saprah dapat ditemukan kelompok sepanjang 2 x 28 meter hingga 2 x 40 meter, tergantung dengan jumlah orang yang diundang oleh tuan rumah yang punya hajatan dan ‘tarub’ (tenda) yang disediakan. Jamuan untuk undangan pria dan wanita dilaksanakan di tempat yang sama, namun dalam waktu yang berbeda. Lazimnya jamuan Saprah dilaksanakan untuk undangan pria terlebih dahulu. Undangan pria Undangan wanita Makan bersaprah tidak memapakai sendok, jadi harus dengan tangan. Makanya disediakan air cuci tangan. Setelah semuatamu mendapat hidangan baru jamuan boleh dimakan. Ini menunjukan wujud kebersamaan. Selain makanan, ciri khas yang disajikan adalah air ‘sapang’ yaitu air berwarna teh dengan aroma khas yang terbuat dari rendaman kayu Sapang. Harus Berjumlah Lima dan Enam Walaupun tidak ada referensi yang dapat menyebutkan secara pasti sejak kapan tradisi Saprah dimulai, namun banyak pihak yang mengaitkan tradisi ini dengan ajaran Islam sebagai agama yang dianut masyarakat Melayu Sambas. Karena itu makna yang dapat diungkapkan dari makan ber-Saprah tidak lepas dari ajaran agama Islam, seperti jenis makanan dalam setiap kelompok harus berjumlah 5 (lima) yang melambangkan jumlah rukun Islam. Sedangkan jumlah orang dalam satu saprah harus berjumlah 6 (enam) orang yang melambangkan jumlah rukun iman dalam agama Islam. Lima jenis makanan Enam orang dalam satu saprah Demikian pula dengan dengan jumlah pengantar makanan yang juga harus berjumlah 6 (enam) orang. Khusus untuk pengantar makanan, cara berjalan membawa nampan, menghidangkan makanan dan berbalik arah semuanya teratur, tidak boleh membelakangi undangan. Kelompok pengantar makanan berseragam Peran Penyambut Tamu Adat tuan rumah adalah menghormati tamu. Agar seluruh tamu yang datang semuanya mendapat penghormatan dan penghargaan yang selayaknya dari tuan rumah, maka peran penyambut tamu menjadi penting dalam sebuah jamuan makan ber-Saprah. Penyambut tamu dituntut untuk mengenal seluruh tamu yang diundang. Penyambut tamu bertugas menyambut tamu yang datang sekaligus mengantarkan tamu ke tempat duduknya. Tempat duduk tamu ditentukan dari status sosialnya di masyarakat, yang disusun mulai dari tempat paling ujung di dalam ‘tarub’. Mereka adalah kelompok yang telah menunaikan ibadah haji dan menjadi panutan, selanjutnya adalah kerabat Raja dan keturunannya, diikuti oleh tokoh dan pemuka masyarakat dan seterusnya.

Menu Botok Khas Sambas Kalimantan Barat

Menu Botok Khas Sambas Kalimantan Barat Hasil kreatifitas masyarakat terhadap masakan semakin beranekaragam baik dahulu maupun sekarang. Untuk memenuhi kebutuhan akan rasa masakan memang sering lakukan eksperimen agar hasil masakan dapat dinikmati dengan lahap. Salah satu kreasi masakan khas masyarakat Sambas Kalimantan Barat (Kalbar) adalah botok yang berbahan dasar ikan. Bentuk botok hampir menyerupai masakan pepes ikan namun rasanya berbeda dan cara penyajiannya yang berbeda. Yang membedakan botok ikan Kalbar dengan botok ikan dari daerah lain di Nusantara adalah botok dibungkus dengan daun mengkudu serta bumbu dasar yang khas. Botok akan terasa nikmat dan gurih jika mengunakan ikan pilihan seperti ikan ketutu sungai, ikan gabus (Ruwan/ delak, bahasa lokal.red), ikan toman, dan ikan kaloi. Tetapi ikan-ikan lain juga bisa digunakan dalam pembutan botok seperti ikan tongkol, tenggiri maupun ikan patin. Untuk mendapatkan rasa ikan yang unik dan khas, ikan setelah dibersihkan dipotong-potong sesuai selera kemudian dimasukkan ke dalam toples dengan menambahkan garam dan nasi secukupnya agar aroma daging ikan menjadi khas. Daging ikan didalam toples dibiarkan beberapa hari antara 2-3 hari sampai dagingnya agak lunak dan jangan sampai busuk, kemudian baru diolah menjadi masakan botok. Bahan-bahan: 1 kg daging ikan Daun mengkudu yang masih muda (secukupnya) 3 s/d 5 lembar daun kunyit yang masih muda 15 lembar daun kesum Serai 3 batang 650 ml santan kelapa 2 buah kelapa yang sudah diparut ½ sdm asam jawa Cabe kering secukupnya Gula merah 1 ons Minyak makan untuk menumis Bumbu : 6 siung bawang putih 4 bh bawang merah 1 ruas jari jahe 1 ruas jari kunyit 3 bh kemiri/ keminting Ketumbar 10-15 biji Micin dan Garam secukupnya Penyedap masakan. Cara membuatnya: Bersihkan daging ikan yang ada di dalam toples Daun kunyit dan daun kesum diiris halus Parutan kelapa di oseng-oseng sampai kuning kemudian ditumbuk sampai halus Bawang merah, bawang putih, ketumbar, keminting, serai, cabe kering, ditumbuk sampai halus dan tumis dengan minyak makan di tambah micin dan garam secukupnya. Bumbu di atas yang sedang ditumis ditambah air asam jawa, gula merah, diaduk sampai rata kemudian masukkan daging ikan yang telah disiapkan. Setelah daging ikan setengah matang kemudian tambahkan daun kunyit dan daun kesum serta taburi dengan kelapa parur yang telah dioseng dan dihaluskan. Setelah ikan dirasakan telah matang, diangkat dan dibungkus dengan daun mengkudu Bungkusan botok masukkan ke dalam rebusan santan (api jangan terlalu besar), aduk terus sehingga ikannya menjadi empuk (masak) dan bumbunya meresap serta kuah santannya agak mengental. Untuk menghidangkan buang benangnya dan atur di piring lalu siramkan kuahnya. Disantap akan terasa nikmat apabila nasi dan botok disanjikan dalam keadaan panas.

Taek Lallak, (Tahi Minyak Kelapa) Pembuka Nafsu Makan Khas Melayu Sambas

Taek Lallak, (Tahi Minyak Kelapa) Pembuka Nafsu Makan Khas Melayu Sambas Penulis : ANTS EDUCATION on Kamis, 27 Juni 2013 | 08.47 Taek Lallak (tahi minyak) Minyak makan atau minyak masak adalah salah satu kebutuhan bahan pokok dapur sebagai bahan untuk memasak. Bahan untuk membuat minyak masak (minyak makan) ini terbuat dari buah kelapa atau buah kelapa sawit. Orang Sambas pada umumnya yang mempunyai kebun kelapa yang luas, sering membuat minyak masak (minyak makan) dengan cara manual, yaitu diparut secara tradisonal. Saat ini dengan kemajuan teknologi mesin untuk memarut kelapa sudah diciptakan, maka mereka pun memanfaatkan mesin tersebut. Biasanya buah kelapa yang dibuat oleh mereka berkisar 100-300 biji buah kelapa. Salah satu pengrajin minyak kelapa atau minyak makan di Desa Sepinggan Kecil, Kecamatan Semparuk adalah Bapak Saputra, S.Pd yang mempunyai kebun kelapa lumayan luas dengan 1.000 batang pohon kelapa. Setiap tiga bulan sekali, selain dibuat kopra, bapak Saputra membuat minyak kelapa sendiri dengan dibantu oleh adiknya yang masih sekolah dibangku SMK di Singkawang. Tahi lallak ini adalah kerak dari minyak kelapa tersebut yang berasal dari santan kelapa yang sudah matang dan mengering karena dimasak di dalam kuali, singkat katanya taek lallak ini merupakan ampas minyak kelapa. Setelah minyak dituskan (ditiriskan) maka tahi lallak tersebut akan terpisah dari minyak tersebut. Setelah itu tahi lallak tersebut dapat dimasak sesuai selera. Campuran atau bahan-bahan untuk memasak tahi lalallak adalah: 1. Taek lallak secukupnya. 2. Cabe merah (cabek karring) 5 buah. 3. Minyak makan secukupnya. 4. Bawang merah atau bawang putih (sesuai selera). 5. Daun kesum segenggam (secukupnya). 6. Penyedap rasa (masako atau mecin). 7. Garam secukupnya. 8. Air secukupnya. 9. Udang (jika ada) atau dicampur ikan betok, ikan apa saja sesuai selera. Jika tidak ada sama sekali, dicampur ikan teri saja sudah cukup. 10. Terung pipit (jika ada). Tapi diusahakan ada, karena semakin enak rasanya. 11. Pucuk mengkudu secukupnya (buat lalap) enak rasanya. Caranya: Tahi lallak ditumbuk hingga halus, kemudian tumbuk cabe merah dan bawang hingga halus. Daun kesum dipotong (dihiris kecil-kecil), setelah itu panaskan minyak makan di dalam kuali. Setelah minyak panas, maka masukkan (tumis) cabe merah dan bawang, setelah harum dan matang, masukkan tahi lallak dan air secukupnya, setelah itu masukkan mumbu (penyedap rasa), udang atau ikan teri (ikan lainnya sesuai selera), terung pipit dan pucuk mengkudu. Setelah semuanya menyatu di dalam kuali, biarkan hingga mendidih hingga keluar aroma yang sangat harum dari bau daun kesum serta taek lallak (tahi minyak kelapa) tersebut. Setelah matang, angkat dan dinginkan serta sajikan di atas meja makan. Rasanya enak dan menambah nafsu makan. Sebut saja namanya Elsa Hariani Firniawaty, ia adalah seorang mahasiswa pada salah satu Univeritas yang ada di Provinsi Kalimantan Barat. Ia megaku dan tidak pernah rasa malu untuk memakan (konsumsi) taek lallak ini sebagai menu utamanya. Lebih asik baginya jika campuran taek lallak ini dengan terung pipit. Setiap pulang dari Pontianak, ia selalu ingin dibuatkan masakan taek lallak sama ibunya. Untung saja di Kota Singkawang masih mudah untuk mencari taek lallak (tahi minyak kelapa). Jika ia pulang ke Pontianak, maka ia akan membawa makanan khas Sambas ini ke Ibukota Provinsi Negeri Khatulistiwa. Jika ada taek lallak, maka selera makan Elsa semakin tinggi, ia merasa senang sekali dapat mengkonsumsi makanan daerah kelahiran orang tua dan kakeknya yang berasal dari Sambas (Pantai Jawai dan Sei Kelambu). Perlu anda ketahui, secara ilmiah, air bekas perahan minyak yang tidak terpakai, sebenarnya dapat digunakan untuk membersihkan perabotan rumah tangga yang sudah lama berkarat. Masukkan saja semua perabotan yang berkarat, misalnya sendok, mangkok, pinggan, baskom, atau barang-barang yang terbuat dari tembaga atau stanles, rendam sekitar 30 menit. Insa Allah karatan atau warna yang tadinya kusam akan cerah kembali. Air tersebut ibaratnya seperti braso atau pemutih (jika untuk pakaian). Selamat mencoba makanan Taek Lallak, (Tahi Minyak Kelapa) Pembuka Nafsu Makan Khas Melayu Sambas. Taek Lallak (Tahi Minyak Kelapa) yang penulis maksud disini adalah ampas minyak kelapa yang didapatkan dari olahan untuk membuat minyak kelapa,. jadi bukan tahi dalam makna kata sebenarnya itu hanya sebutan untuk Ampas Minyak kelapa dalam bahasa melayu sambas Read more: http://www.cakrawawasan.com/2013/06/taek-lallak-tahi-minyak-kelapa-pembuka.html#ixzz2mhL9zOey

Masakan Khas Melayu Sambas, Tanak Lade

Masakan Khas Melayu Sambas, Tanak Lade Melayu, memang identik dengan khasanah budaya yang beragam dan tradisional. Tak terkecuali soal masakannya. Sebut saja, sambal lado, bubur pedas, bubur sumsum, sayur keladi dan berbagai masakan lainnya. Demikian pun melayu sambas- menyimpan khasanah masakan khas yang tak kalah enak dan mak nyos -meminjam kata kuliner kawakan Pak Bondan Winarno di sebuah siaran televisi nasional. Kali ini saya persembahkan masakan tanak lade. Baiklah, ini sebenarnya masih kelanjutan dari wisata pasar beringin sebelumnya, aku dan istri membeli ikan kecil, ikan kerisi begitu biasa kami menyebutnya. Kami berencana membawa pulang dan akan membuat masakan khas tadi, yang sebenarnya sudah lama tidak kami rasakan lagi. Apa itu tanak lade? Tanak bisa diartikan masakan, memasak. Sedangkan lade, adalah rempah yang kita sering sebut lada. Namun untuk keperluan ini kita menggunakan lada hitam, lada yang berwarna hitam karena berasal dari lada hijau yang dikeringkan sehingga menjadi hitam. Selanjutnya lada hitam (kira-kira segenggam) tadi dihaluskan terlebih dahulu, kemudian ditambah bumbu lain seperti bawang merah (2 siung), bawang putih (2 siung), jahe (seiris), kunyit (satu centi), lengkuas (seibu jari), garam (secukupnya) dan bumbu penyedap (secukupnya) kemudian dihaluskan lagi. Siapkan penggorengan dan masukkan sedikit minyak goreng, setelah agak panas masukkan bumbu yang telah dihaluskan tadi sambil diaduk pelan sampai tercium bau harum, lalu masukkan sebatang serei yang telah dimemarkan dan ikan kerisi yang telah dibersihkan. Kemudian tambahkan sedikit air. Tunggu dan sambil diaduk pelan hingga mendidih dan tercium aroma khas tanak lade. Masakan ini enak disantap saat masih panas sebagai lauk pauk makan nasi putih pada siang atau malam hari. Masakan ini juga sering dipakai sebagai lauk bagi seorang ibu yang baru melahirkan, namun biasanya tanpa ikan hanya lada hitam dan dibuat sedemikian hingga tampak tanpa air atau kering. Mau mencoba memasak dan mencicipi? segera ke pasar dan cari bahan-bahannya.

Bubur Pedas

Bubur Pedas
Bubur pedas adalah bubur yang terbuat dari berbagai macam sayur yang diiris halus-halus serta diberi bumbu dari beras yang sudah dihaluskan serta diberi santan kelapa. Bubur pedas ini adalah makanan khas Melayu Sambas khususnya, Kalimantan Barat pada umumnya. Bubur pedas ini ternyata tidak hanya ada di Sambas, Singkawang, Bengkayang, Mempawah, dan Pontianak. Ternyata bubur pedas ini ada juga di Negeri Jiran yaitu Sarawak, Malaysia. Menurut informasi dari para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) atau TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang berasal dari Kalimantan Barat (Sambas, Singkawang, Bengkayang, Mempawah, dan Pontianak serta Sintang) mengkhabarkan bahwa Malaysia (Sarawak) telah mengklaim bahwa “bubur pedas” itu adalah milik mereka, punya mereka, berasal usul dari Malaysia. Berdasarkan keterangan di atas bahwa semua itu tidak benar, permasalahan malaysia Negeri Jiran tersebut memang suka mengklaim produk-produk asli Indonesia. Sebenarnya Negeri Jiran (Malaysia) mengklaim “bubur pedas” ini, sejak tahun 2009 sebagai acara tradisional mereka. Mengapa sekarang permasalahan “mengklaim” itu terulang kembali? Apa yang menyebabkan mereka seperti itu, dan apa yang mereka inginkan dari Indonesia? Nanti bisa kualat lho... kenapa? Karena Indonesia adalah guru bagi “Negeri Jiran”, hormatilah guru, hargailah guru yang telah menjadikan kamu sukses dan berilmu. Bukan hanya bubur pedas yang mereka klaim milik mereka, sate, batik, tari, cerita rakyat, pulau, dan entah apa lagi dikemudian hari. Sebenarnya “bubur pedas” ini adalah asli dari Kebudayaan Sambas (Kesultanan Sambas) Kalimantan Barat, Indonesia. Kami juga mendapatkan artikel di wikipedia yang dikenal sebagai sumber artikel terpercaya juga dengan jelas menyatakan bahwa bubur pedas merupakan masakan khas negara Malaysia yang menjadi favorit masyarakat Sarawak saat Ramadhan. anda bisa lihat disini http://en.wikipedia.org/wiki/Malaysian_cuisine Anda juga bisa melihat di website resmi malaysia mengenai resep / masakan di myresipi.com yang dengan jelas menyatakan bahwa bubur pedas merupakan kuliner dari negeri Sarawak. Berikut merupakan cuplikan kata yang kami ambil dari website malaysia di myresipi.com : "masakan (bubur Pedas) negeri burung kenyalang (Sarawak) ini pada kebiasaannya menjadi sajian utama paling istimewa hanya di bulan Ramadhan". anda bisa lihat disini http://www.myresipi.com/top/detail/1130 Di bawah ini adalah rempah-rempah atau bahan bubur pedas Sarawak Malaysia. 1. 1 pek bumbu bubur pedas ( campuran beras,rempah ratus dan kerisik). 2. 3 ulas bawang merah (ditumbuk). 3. 2 ulas bawang putih (ditumbuk). 4. Cili blend. 5. Sedikit udang, ayam/daging. 6. Jadung muda (dipotong bulat). 7. Kacang panjang (dipotong bulat). 8. Kentang (dipotong dadu). 9. Carrot (dipotong dadu). 10. Santan. 11. Daun kunyit. 12. Daun singkil/daun tebawan. Cara memasak: 1. Rendam bumbu hingga kembang. 2. Tumis bawang2 dan cili merah blend. 3. Masukkan udang hidup, daging/ayam. Read more: http://www.cakrawawasan.com/2013/06/bubur-pedas-khas-sambas-west-borneo-di.html#ixzz2mhJk9LKy

Selasa, 03 Desember 2013

Pantai Tanjung Batu Pemangkat

Pantai Tanjung Batu Pemangkat Pantai Tanjung Batu merupakan pantai yang berbentuk Tanjung, bentuk alam yang terdiri dari bukit yang berbatu dan menjorok ke laut dengan ketinggian kurang lebih dari 80 meter. Pantai Tanjung Batu terletak 47 kilometer dari pusat Kota Kabupaten Sambas. Di kaki bukit ini banyak terdapat Batu-batu yang menghampar ke laut yang dapat di lihat apabila air dalam keadaan surut. Objek Wisata Pantai Tanjung Batu ini dilengkapi dengan gunung yang berfungsi sebagai benteng alam. Terdapat tempat penginapan yang berada di sekitar pantai tanjung batu.

Air Terjun Gunung Selindung

Air Terjun Gunung Selindung Air Terjun Gunung Selindung merupakan wisata alam dengan topografi alam gunung yang terjal dan mendaki. Surga bagi yang hobby tracking jungle. Selain menawarkan keindahan panorama alam pegunungan yang lengkap dengan petualangannya, obyek wisata ini terdapat sebuah pos penjagaan yang berupa meja terbuat dari batu besar, peninggalan zaman penjajahan Belanda yang dikenal sebutan “Titik Basis A”. Dari pos penjagaan ini pengunjung dapat menyaksikan panorama indah Kota Pemangkat dengan aliran sungainya dari puncak gunung. Objek ini terletak di Dusun Air Terjun, Desa Parit Baru berjarak kira- kira ±4km Kecamatan Salatiga ± 44 km dari ibukota kabupaten. Untuk mencapai obyek wisata ini bisa dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat dengan jarak tempuh ± 4 km dari Kantor Desa Parit Baru. Kemudian dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak sepanjang ± 200 m untuk mencapai kaki gunung. Untuk mencapai ke air terjun dibutuhkan jarak tempuh ± 400 m dari kaki bukit hanya dengan berjalan kaki.

Pantai Temajuk

Pantai Temajuk Untuk postingan kali ini, ane ingin berbagi keindahan – keindahan Objek wisata yang terdapat di Kabupaten Sambas terutama Pantai Temajuk, yang mana berlokasi di Kecamatan Paloh. Desa Temajuk adalah sebuah desa yang terdapat di Kecamatan Paloh yang mana menurut situs resmi ” Humas PDE & Sandi Setda Kabupaten Sambas ” ini menyatakan bahwa Kecamatan Paloh merupakan kecamatan pantai yang berada di wilayah Kabupaten Sambas dan terletak di wilayah perbatasan dengan Negara Malaysia Timur (Serawak) dengan luas wilayah ± 1.697,30 Ha, dengan batas sebagai berikut : * Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Laut Cina Selatan * Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Galing * Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sajingan Besar & Serawak * Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Natuna Sebelum Memasuki Pantai Temajuk, Pengunjung sebelum nya akan mmemasuki Pintu Gerbang yang bewarna putih yang mana pintu gerbang tersebut adalah pertanda bahwa pengunjung akan memasuki Pantai Temajuk. Pantai Temajuk Sekitar 120 kilometer dari Kota Sambas, yang mana kawasan pesisir ini langsung berbatasan dengan Laut Natuna dan Malaysia Timur. Pantai Temajuk yang terdapat di Desa Temajuk ini memiliki beberapa keindahan Alam yang sangat menarik untuk di kunjungi oleh wisatawan, Keunikan dan Keindahan nya sangat memukau bagi yang mengunjungi pantai ini. Keunikan Dari pantai ini, adalah ketika Air Laut surut menyisakan hamparan pasir yang sangat luas dengan lebar sekitar 100-150 meter. Namun ketika memasuki bulan Oktober – Februari tiupan angin cukup kencang dan tinggi gelombang di pantai ini bisa mencapai 2 meter bahkan lebih. Inilah saat yang tepat untuk melakukan olahraga sky diving atau berselancar bagi mereka yang gemar dan mahir akan olahraga tersebut. Bila pengunjung menginginkan suasana pantai yang berbeda, Di ujung utara bagian pantai ini terdapat pantai dengan gugusan batu dengan berbagai ukuran yang membentuk formasi yang indah. Beberapa diantaranya memiliki keunikan pada bentuknya dengan ukuran yang cukup besar. Ditambah lagi air pantai yang jernih di antara bebatuan. Cocok untuk berenang, sementara kaki aman memijak lantai pantai yang berpasir sehingga termasuk kategori obyek wisata bawah air dan pantai pasir putih. Selain Kaya dengan Keindahan pantai nya, Pantai Temajuk juga kaya akan penyu – penyu yang bertelur di pesisir pantai ini. Penyu – penyu ini tidak hanya terdapat di Pantai Temajuk akan tetapi terdapat juga di Pulau Selimpai. Di Desa Temajuk para Pengunjung juga bisa kiranya mengunjungi sebuah dermaga, yaitu Dermaga Temajuk, Yang mana Dermaga ini sangat Panjang yang Menjorok Ke Laut. Pantai Temajuk yang banyak Menyimpan keindahan alam nya, bisa menjadi alternatif bagi pembaca untuk mengunjungi tempat – tempat yang indah yang mana tersedia di dalam negeri kita yang tercinta ini. Selain pantai dan bebatuan nya yang membentuk berbagai formasi, spesies penyu juga dapat di lihat disini.

Pantai Polaria

Pantai Polaria Pantai Polaria adalah salah satu objek wisata terletak di desa Sungai Rusa Kec. Selakau lebih kurang 64 km jauhnya dari ibukota Sambas, merupakan sebuah pantai dengan bebatuan dimana-mana dapt dicapai dengan sepeda motor. Pantai Polaria terletak di Kec. Selakau, tepatnya di Desa Sungai Rusa, sekitar 65 km selatan Kota Sambas atau sekitar 20 km utara Kota Singkawang. Pantai ini merupakan salah satu objek wisata andalan di Kec. Selakau.Di pantai ini banyak terdapat bebatuan yang terhampar dan pohon2 kelapa yang menjadikan udara sekitar pantai ini begitu segar.

Pantai Jawai

Pantai Jawai Jawai selatan merupakan suatu daerah di Kabupaten Sambas yang merupakan sebuah Kecamatan baru yang dahulunya masih satu kecamatan dengan Jawai. Jarak tempuh menuju Kecamatan Jawai selatan sekitar 40 Km dari Ibu Kota Kabupaten Sambas. Di kecamatan Jawai Selatan Inilah dimana obyek wisata khususnya Pada Desa Jawai Laut,dengan Jarak tempuh dari Kecamatan Sekitar 2Km. Pantai Jawai mempunyai sebuah nama julukan Putri Serayi adalah nama yang diberikan bedasarkan cerita rakyat desa tersebut. Di pantai Jawai ini juga Lahan Perikanan bagi penduduk setempat yang bermata pencharian sebagai Nelayan. tidak Hanya lahan perikanan di Pantai jawai selatan juga terdapat perkebunan kelapa Milik rakyat waw sungguh lengkap keindahan rasanya bakar ikan sambil menikmati kelapa muda . Setiap wisatawan/i yang berkunjung ke pantai jawai ini selalu memberikan cerita keindahan yang tersendiri,mulai dari hamparan pasir putih bebatuan yang indah dilengkapi dengan bukit di pinggiran pantai tempat dimana untuk beristirahat sambil menikmati keindahan pantai dan dilengkapi dengan tiupan angin pantai yang mampu menghipnotis kita untuk tetap santai. Masih banyak lagi keindahan di pantai jawai selatan yang tidak dapat di tuangkan dalam tulisan ini,,hanya bukti nyata dari anda yang telah menyaksikan dan merasakan kebenaran setelah mengunjungi pantai jawai.

Pantai Selimpai

Pantai Selimpai Salah satu tujuan wisata terletak di desa Sebubus Kec. Paloh. Lebih kurang 7 km dari ibukota kecamatan, merupakan pantai yang indah dan menarik yang mempunyai pasir putih, kita juga dapat menikmati melihat matahari terbenam. Pasir putih yang landai dan pohon pinus yang tinggi menjulang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke Pantai Selimpai, Paloh. * Indahnya Hamparan Pantai Selimpai, Enaknya Telur Penyu Rebus Pinusnya berjejer rapi. Kesan hijau semakin terasa oleh rumput yang menghampar setinggi mata kaki di lahan berpasir. Meski mentari persis di atas kepala, suasananya tetap sejuk. Sesekali ombak terdengar memecah pantai dan berpadu dengan kicauan burung yang bersahutan, menambah kedamaian suasana. BEGITULAH potret Pantai Selimpai, Paloh, Kabupaten Sambas. Pasirnya yang bersih tak kalah dengan Pantai Kuta, Bali. Bila di Provinsi pulau dewata yang bersebelahan dengan Jawa tersebut di sepanjang pantainya berjejer bangunan vila, hotel dan restoran, justru di Selimpai kealamian sangat terasa. Seperti sebuah pulau, Selimpai terpisah dengan daratan Kabupaten Sambas. Sisi selatannya hingga ke bagian barat berbatasan dengan laut Natuna, sedangkan di sisi utaranya membentang ke timur dikepung oleh Sungai Merabau. Makanya setiap mereka yang mampir ke sini, akan menjumpai aneka pemandangan; ada hutan pinus, pantai, laut dan sungai. Dari kejauhan terlihat Tanjung Datuk, yang merupakan kawasan berbatasan Malaysia. Bentuk pulau Selimpai memanjang. Antara sisi di bibir sungai dan garis laut hanya selebar lapangan bola. Bila kita berdiri di sebelah sungai, akan terlihat ombak Laut Natuna yang saling berkejaran. Hembusan anginnya sedang. Paling kencang tinggi ombak mencapai tiga sampai empat meter. Keberadaan hutan Pinus di lahan selimpai membuat suasana di pulau mini ini berbeda dengan pantai lainnya di Kabupaten Sambas. Pohon berkayu yang menjulang tinggi tersebut berjejer rapi seakan ada yang sengaja menatanya sedemikian rupa. “Ini semua tumbuh alami,” cerita penjaga pantai. Selain alami, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Selimpai adalah, menjadi tempat persinggahan penyu. Setelah bertamasya keliling dari pulau ke pulau, benua ke benua, dalam setahun sekurangnya lima kali satwa langka dilindungi ini mampir ke pulau orang bunian tersebut untuk bertelur. Berdasarkan catatan Satgas Pantai Selimpai –dari kelompok sadar wisata (pokdarwis) Paloh, ada empat jenis penyu yang mampir ke pantai ini. Diantaranya adalah penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang. Sedangkan penyu belimbing hanya sesekali singgah. Saat ini di dunia terdapat tujuh jenis penyu, enam diantaranya ada di Indonesaia. Yaitu; penyu sisik (Eretmochelys imbricate), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), penyu belimbing (Dermocelys coriaceae), penyu hijau(Chelonia mydas), penyu tempayan (Caretta carretta), dan penyu pipih (Natator depresus). Untuk penyu dari jenis Lepidochelys kempi hidup di laut atlantik, khususnya pantai Amerika dan Meksiko. Diantara jenis penyu yang singgah ke Selimpai tersebut, penyu sisik yang paling banyak telurnya. Setiap kali naik ke pantai, telur yang dikeluarkan yaitu sebanyak 65-125 butir. Sedangkan yang lainnya hanya kisaran puluhan butir. Bahkan yang sedikit telurnya adalah penyu hijau, maksimal cuma sembilan. “Tapi, telurnya (penyu hijau) besar seperti telur bebek,” ujar Trino Junaidi, Ketua Satgas Pantai Pokdarwis Paloh, saat berbincang dengan koran ini di Selimpai, pekan lalu. Hewan yang masuk dalam kategori satwa langka ini, naik ke pantai untuk bertelur pada malam hari. Karenanya kalau pengunjung tidak bermalam di Selimpai, jangan mengimpikan untuk bertemu dengan penyu. Makanya agar pengunjung dapat melihat penyu, pokdarwis berinisiatif membangun tempat penangkaran di Selimpai. Sehingga demikian, setiap tamu yang datang bisa menyaksikan mana yang namanya tukik (anak penyu), penyu hijau, sisik, dan lekang. Wartawan Koran ini pernah melakukan perjalanan pada malam hari menelusuri Pantai Selimpai. Perjalanan dilakukan dimulai dari Selat Mutusan hingga Tanjung Kemuning. Sepanjang perjalanan memang terlihat sejumlah penyu yang cukup besar naik ke pantai untuk bertelur. Diameter cangkang (penutup badan) hingga lebih satu meter panjangnya. Setelah bertelur yang biasanya mencapai 100 butir, penyu-penyu itu kembali ke laut. Menjadi pengalaman yang tak terlupakan melihat penyu-penyu raksasa itu naik ke pantai dan bertelur.(mur) PANTAI SELIMPAI >> Alamat/Lokasi: Desa Sebubus, Kecamatan Paloh >> Luas : 200 ha >> Status Kepemilikan : Tanah Negara >> Nama Pengelola: Balai KSDA >> Jarak dari Pusat Kota/Waktu Tempuh : 7 km dari ibukota Kecamatan Paloh atau 80 km dari pusat Ibukota Kabupaten Sambas >> Kondisi Jalan Menuju Obyek Wisata : Jalan aspal sampai di Dusun Setinggak kemudian menggunakan kapal motor ke Pantai Selimpai >> Transportasi yang Dapat Digunakan /Biaya : Menggunakan kendaraan roda 2 atau 4 hingga di Dusun Setinggak, kemudian menyeberangi Sungai Paloh menggunakan kapal motor selama 20 menit menuju ke Pantai Selimpai.

Pantai Tanah Hitam

Pantai Tanah Hitam Tanah Hitam merupakan salah satu desa yang terdapat di kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Ia merupakan desa yang tidak jauh dari pesisir pantai. Kecamatan Paloh ini merupakan kecamatan pantai yang berada di Kabupaten Sambas dan terletak di wilayah perbatasan dengan Negara Malaysia Timur (Serawak) dengan luas wilayah ± 1.697,30 H. Untuk desa Tanah Hitam ini bisa di capai menggunakan kendaraan bermotor seperti sepeda motor maupun mobil. Akses jalan beraspal juga sudah tersedia untuk menjangkau desa ini. Jika perjalanan dari Pasar Sekura menuju Desa Tanah Hitam ini sekitar satu jam. Desa Tanah Hitam yang terletak dekat pesisir pantai ini ketika berada di jalan akan terdengar suara deburan ombak yang menyatu mesra dengan rintihan dedunan kelapa yang berbaris rapi menghias di sepanjang jalan. Untuk di desa Tanah Hitam ini mayoritas di huni oleh kaum tionghoa dimana terdapat juga Pasar Tanah Hitam yang menjadi tempat perekonomian masyarakat sana. Selain itu padi dan kelapa yang merupakan komoditi masyarakat sana, kacang kedelai juga menjadi komoditi handalan, kacang kedelai ini biasanya di tanam setelah musim panen padi selesai. Selain sebagai penghasil komoditi kelapa serta kacang kedelai, desa Tanah Hitam ini menyajikan pemandangan pantai nya yang juga tidak kalah menarik. Sebut saja pantai Lestari dan Pantai Tanjung Harapan. Kedua pantai ini berada di satu lokasi namun di bedakan oleh arah nya saja, sebagai contoh untuk pantai Lestari ini arah nya ke arah Paloh sementara pantai Tanjung Harapan ini arah nya ke arah Simpang atau berlawanan arah dengan pantai Lestari. Dan untuk memasuki pantai Lestari ini terdapat gerbang dan pasirnya menuju pantai Lestari ini bewarna putih dan sepanjang jalan ini di hiasi oleh pohon cemara. Sementara untuk menuju pantai Tanjung Harapan ini di sepanjang jalan nya melewati pepohonan kelapa yang menjulang tinggi dan melewati beberapa pohon dengan ukuran nya yang besar. Pada hari raya idul fitri maupun idul adha yaitu pada hari kedua atau ketiga biasanya banyak yang mengunjungi pantai Tanah Hitam, karena saat itu di adakan musik untuk menghibur rakyat, biasanya musik yang disuguhkan adalah musik dangdut dengan menghadirkan penyanyi - penyanyi dangdut asal kota Jakarta, sebut saja yang pernah hadir, Trio Macan, Nita Talia, artis KDI yang saya juga tidak tau siapa namanya, pokok nya banyak dah, kalo yang penikmat musik dangdut mungkin tau nama mereka, tapi saya kurang sreg aja dengan genre musik seperti itu (Selera Masing - Masing ). Selain di datang kan nya artis - artis ibu kota Jakarta di setiap hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha ini, ada perayaan unik lain nya di desa Tanah Hitam ini, bukan di Desa Tanah Hitam saja sih sebenarnya, melainkan di desa Arung Parak juga perayaan ini juga ada. Perayaan itu adalah " Antar Ajong ". Antar Ajong ini adalah suatu adat istiadat masyarakat sana yaitu upacara ritual adat untuk menanam padi yang dilaksanakan setiap tahun pada masa bercocok tanam. Masyarakat setempat mempercayai, aktivitas tersebut dapat membuat tanaman padinya terhindar dari serangan hama dan penyakit. Sehingga demikian, hasil panen berlimpah untuk kemakmuran masyarakat sekampung. Sementara waktu pelaksanaan Antar Ajong ini biasanya setiap pertenggahan tahun, sekitar Juni atau Juli. Biasanya sebelum di adakan ritual Antar Ajong ini, malam nya sebelum hari H, di adakan juga ritual - ritual lain nya yang entah apa namanya, biasanya pembacaan doa - doa dan persiapan untuk besok nya. Untuk ukuran badan perahu biasanya bervariasi dengan lebar 20 cm - 40 cm dan panjang 1,5 m - 4 m. Kain yang dibuat sebagai layarnya sering tampil dalam berbagai warna tapi lebih didominasi oleh warna putih dan kuning. Badan perahu diberi warna cat bebas dengan variasi gambar ukiran khas sambas. Nah pada saat acara pelepasan, beberapa orang yang di tunjuk memegang perahu tersebut dan membawanya ke laut dan menghanyutkan nya. Ritual adat ini berlansung setiap satu tahun sekali. Biasanya ritual adat ini banyak menarik pengunjung dari berbagai tempat dan Antar Ajong ini merupakan ajang menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung ke kabupaten Sambas. Mungkin ada yang tertarik untuk menyaksikan ritual adat ini bisa datang ke Sambas, kecamatan paloh pada khususnya. Dan hanya bisa melalui kendaraan darat bukan udara.

Danau Sebedang

Danau Sebedang Danau Sebedang merupakan salah satu obyek wisata alam andalan Kabupaten Sambas dan Provinsi Kalimantan Barat. Kawasan yang menjadi pintu gerbang masuk ke Kabupaten Sambas ini ramai dikunjungi para wisatawan pada hari Minggu dan hari-hari libur lainnya. Sebagian pengunjung yang datang tidak hanya berniat menikmati kepermaian alamnya, tetapi ada juga yang menyalurkan hobi memancingnya, karena danau ini merupakan rumah bagi banyak ikan. Konon, danau yang menjadi sumber air bersih bagi penduduk beberapa kecamatan di Sambas dan juga menyimpan berbagai kekayaan ekosistem ini, dahulunya merupakan salah satu tempat istirahat favorit bagi para sultan Sambas beserta keluarga mereka. Luas danaunya yang mencapai sekitar satu kilometer persegi, dikelilingi oleh perbukitan yang memiliki ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut (dpl), dan pemandangan alamnya yang rancak dengan latar hutan tropis yang hijau dan lebat, menjadikan kawasan ini tepat sekali dipilih sebagai salah satu tujuan rekreasi yang menyenangkan bersama keluarga atau kolega. Pengunjung dapat menikmati keindahan panorama alamnya dengan cara berjalan kaki mengelilingi danau, atau sambil minum-minum di kantin-kantin yang menghadap ke danau. Selain itu, keelokkan danau ini juga dapat dicerap pengunjung dengan bersantai di shelter-shelter yang tersedia, atau sambil duduk lesehan di atas tikar yang disewakan. Bila bosan, pengunjung dapat mengelilingi danau dengan menyewa perahu. Pada sore hari, eksotisme kawasan Danau Sebedang kian tampak dan kian terasa. Bagi pengunjung yang mendatangi danau pada malam hari tidak perlu khawatir akan kesepian. Karena semakin malam, semakin banyak pengunjung yang datang. Dan, suasananya bertambah semarak dan hidup dengan iringan suara musik keras yang berasal dari kafe-kafe di kawasan tersebut. Danau Sebedang terletak di Desa Sebedang, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Kabupaten Sambas berjarak sekitar 202 kilometer dari Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Dari Pontianak menuju Sambas, pengunjung dapat naik taksi, bus travel, bus, atau kendaraan pribadi. Sedangkan dari pusat Kota Sambas, objek wisata Danau Sebedang berjarak sekitar 18 kilometer. Jalan menuju Danau Sebedang telah beraspal dengan halus dan dapat diakses dengan menggunakan bus atau kendaraan pribadi. Pengunjung tidak akan kelaparan jika berada di lokasi Danau Sebedang, karena di kawasan ini terdapat warung makan, kantin, dan kafe yang menyediakan berbagai menu makanan dan minuman. Bagi pengunjung yang kemalaman dapat menginap di losmen-losmen yang banyak terdapat di kawasan sekitar danau. Areal camping ground yang luas dan aman dapat digunakan pengunjung yang berhasrat menikmati suasana kawasan ini pada malam hari. Di sini, juga tersedia persewaan tenda dan tikar, sehingga pengunjung tidak perlu repot-repot membawa perlengkapan berkemah. Selain itu, di kawasan ini juga terdapat pusat informasi pariwisata, sentra oleh-oleh dan cinderamata, shelter-shelter, areal parkir yang luas dan aman, persewaan perahu untuk mengelilingi danau, losmen-losmen, kios yang menyediakan perlengkapan untuk memancing, kios wartel, voucher isi ulang pulsa, dan toilet.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo