This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Kamis, 05 Desember 2013
Jeruk Sambas Kalbar
Jeruk Sambas Kalbar
Ada Apa dengan Flora dan Jeruk Sambas di Kalimantan Barat ?
Indonesia dari dulu dikenal sebagai paru-paru dunia karena termasuk sebagai salah satu negara yang memiliki jenis flora terbanyak. Salah satu penyumbang varietas flora terbanyak ialah Kalimantan Barat yang juga dikenal dengan Bumi Khatulistiwa karena berada tepat pada 0o Lintang Utara. Banyaknya varietas tersebut mungkin disebabkan oleh wilayah Kalimantan yang merupakan pulau terluas di Indonesia. Yakni lebih kurang seluas 743.330 km2 (Badan Geografis dalam wapedia.mobi/id/Pulau_Kalimantan).
Dapat kita lihat, dengan banyaknya pecinta flora yang memburu berbagai jenis tanaman yang hanya berinduk di tanah Kalimantan. Contohnya, tanaman anggrek bulan ataupun anggrek hitam yang langka. Selain itu juga ada kelapa sawit yang menjadi komoditas subsektor yang banyak jadi incaran investor dan juga lidah buaya yang merupakan hasil potensi alam yang siap menjadi produk unggulan Kalimantan Barat. Hal tersebut didukung oleh wilayah yang cukup luas. Dengan modal utama berupa komoditas dan tanah yang luas sudah seharusnya Kalimantan Barat meimiliki komoditas unggulan yang siap dilepas ke pasar internasional (Go International). Maka dari itu, kita sebagai generasi muda harus siap untuk mengembangkan kebudayaan agraris.
Dalam sejarahnya, Kalimantan Barat memiliki primadona dunia berupa produk agraris seperti karet dan kopra. Bahkan pada abad ke-20, karet Kalimantan Barat menjadi komoditas ekspor utama. Tapi sayangnya, karena permintaan dunia menurun maka pembudidayaan tanaman tersebut juga ikut menurun. Akibatnya, Kalimantan Barat hampir kehilangan primadona produk agraris tersebut.
Tapi tenang saja, masyarakat Kalimantan Barat tidak berhenti sampai disini karena di Kabupaten Sambas para petani mulai mengembangkan hasil produksi jeruk yang memiliki kadar vitramin C dan A yang cukup tinggi. Kabupaten Sambas yang kini terkenal sebagai Sentra Jeruk Pontianak dalam sejarahnya pernah mencapai masa keemasan pada 1992. Bahkan, produksi jeruk yang melimpah ini telah didistribusikan ke Pulau Jawa (www.damandiri.or.id/detail.php).
Permasalahannya kini, mengapa Jeruk Sambas tidak seperti karet dan koprah yang menjadi primadona pada zaman Hindia-Belanda? Tentu saja jawabannya adalah ketidakpedulian banyak orang untuk mengembangkan jeruk. Jika begitu, mengapa tidak kita saja sebagai generasi penerus bangsa yang mengembangkannya? Apa pula yang terjadi dengan petani dan pemerintah? Di mana pula peran masyarakat untuk mewujudkan kembali Kalimantan Barat yang memiliki primadona flora? Walaupun begitu ternyata di Kabupaten Sambas jeruk ini telah dibudidayakan secara luas dan turun-temurun dari generasi ke generasi tidak hanya oleh orang-orang tua melainkan pula oleh generasi muda. Itu menunjukkan bahwa pembudidayaan jeruk Sambas di Kabupaten Sambas merupakan suatu bentuk budaya agraris yang tertanam hingga kini.
Penulis percaya jeruk Sambas bisa menjadi produk unggulan yang akan dikenal oleh masyarakat luar tidak hanya sebagai produk konsumsi tetapi juga produk industri di dalam dan luar negri. Tanaman ini bisa lebih mendunia jika dapat memberikan jaminan keuntungan bagi para investor karena suatu produk yang dianggap sebagai komoditas unggulan berarti bernilai tinggi di mata konsumen. Dengan begitu, petani-petani jeruk Sambas tidak lagi kesusahan dalam mencari modal. Hal itu juga akan mencegah permonopolian harga yang sering menyebabkan harga jeruk menjadi rendah serta menurunkan dan menghancurkan produksi jeruk.
Citrus nobilis var. microcarpa Siap ke Pasar Internasional
a. Yun Kun Sang Pembawa Bibit
Sejarahnya, pengembangan jeruk Siam yang kemudian di daerah Kalimantan Barat dikenal dengan jeruk Sambas ataupun di luar Kailmantan Barat disebut jeruk Pontianak telah dilakukan sejak tahun 1936 di Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Bibitnya berasal dari negara Republik Rakyat Cina yang di bawa oleh Yun Kun, Bun Kim, dan Bon Kim In di Desa Segaran. Adapun pengembangannya dilakukan oleh H. A. Rani dan Lim Kim Sim di Desa Bekut pada tahun 1994 (Sarwono, 1986:14). Hingga awal tahun 1950 jeruk siam telah berhasil dibudidayakan hingga mencapai 1.000 ha. Namun, pada tahun 1960 hasil jeruk Sambas mengalami penurunan karena sebagian besar pohon jeruk ditebangi yang terserang wabah penyakit berupa penyakit getah jeruk dan beberapa hama-hama tanaman yang juga turut serta menghambat tumbuhnya jeruk Sambas.
Pada tahun 1979 perkebunan jeruk dikembangkan kembali sampai tahun 1996 hingga mengalami masa kejayaan dengan mencapai 10.000 ha yang berproduksi 26.000 ton per tahun. Setelah itu masih di tahun yang sama produksinya jeruk ini mulai anjlok akibat monopoli sistem tata niaga jeruk yang menyebabkan harga ditingkat petani jatuh serta total pendapatan pun tidak cukup membiayai pengeluaran. Oleh karena itu, para petani membiarkan pohon jeruk mereka merangas mati yang juga diperparah dengan datangnya hama penyakit (http://id.wikipedia.org/wiki/Jeruk_pontianak).
Berdasarkan rencana pengembangan produk unggulan daerah Kabupaten Sambas, untuk pengembangan komoditas jeruk pemerintah mengizinkan dibukanya 7.844 ha yang masih mungkin diperluas.
b. Bagaimana Cara Penanaman Jeruk Sambas?
Tahukah kalian bahwa jeruk Sambas memiliki hasil produksi yang sangat banyak! Walaupun tidak hanya tumbuh di Kalimantan Barat jeruk Sambas ini lebih subur dan hasil produksinya lebih banyak jika di hasilkan dari tanah khatulistiwa. Hal itu dikarenakan jeruk ini lebih menyukai air tanah yang tidak terlalu dalam seperti di Tebas, Kabupaten Sambas yang tidak jauh dari laut karena jeruk Sambas akan menghasilkan buah yang lebih baik jika berada 700 meter di atas permukaan laut serta dengan pH tanahnya 5-7,5. Selain itu, jeruk ini memerlukan banyak sinar matahari sebab jika daerah penanamannya memiliki udara yang lembab maka pembuahan akan terhambat oleh serangan hama terutama kutu perisai dan kutu-kutu penghisap lainnya (Tim Penulis PS, 2005:12).
Adapun mengenai proses pembibitan jeruk dilakukan dengan pemilihan cangkokan dari pohon jeruk yang sehat atau subur dan berasal dari benih pohon jeruk yang baik atau pohon yang masih produktif. Cangkokan yang diambil dari pohon jeruk tersebut, sudah berakar yang cukup kuat untuk kelangsungan hidupnya, serta disemaikan pada areal persemaian yang telah disiapkan atau dengan memakai kantong polibek yanng telah si dengan tanah yang telah digemburkan. Selain itu, apabila umur persemaian sudah mencapai 2-3 bulan, cangkokan tersebut sudah kelihatan bertunas dan berdaun yang subur, maka pada saat itulah dapat dipindahkan ke lokasi areal perkebunan.
Sebulan sebelum persemaian dipindahkan ke lokasi perkebunan, areal perkebunan sudah harus diolah dengan persiapan seperti pembuatan terumbu’ (tanah yang ditinggikan).
Sementara proses penanamannya, petani Sambas memiliki cara yang unik yaitu dengan sistem terumbu’. Terumbu’ adalah tanah yang ditinggikan yang berupa tumpukan-tumpukan tanah setinggi lebih kurang 35 cm dan ukuran garis tengah sekitar 1 meter agar akar tanaman jeruk tidak mengalami pembusukan yang berdampak pada pembuahannya. Untuk jaraknya, antara terumbu’ satu dengan terumbu’ lainnya sekitar 4.5 meter sampai dengan 5 meter. Hal ini dapat disesuaikan dengan keadaan dan tingkat kesuburan tanah tersebut.
Sistem terumbu’ didampingi oleh sistem irigasi yang berbeda. Pengirigasian yang ada dilokasi pengembangan jeruk di Kabupaten Sambas umumnya masih irigasi sederhana dengan sumber air yang berasal dari air sungai atau air pasang surut. Sebagian kecil lainnya mengandalkan air hujan. Meski demikian, letak permukaan air yang relatif tidak terlalu dalam memungkinkan adanya penggunaan teknologi berupa pembuatan saluran-saluran pembuangan air di sekitar area perkebunan. Saluran-saluran pembuangan air dibuat dengan ukuran lebar 40 cm dan kedalamannya 30 cm. Jarak antara satu saluran dengan saluran lainnya sekitar 10 meter.
Setelah menanam, proses pemupukan dan perawatan merupakan tahap yang tidak boleh diremehkan. Sama seperti halnya dengan perkebunan jeruk lainnya, hanya saja pada penanaman jeruk Sambas ini, sebelumnya tanah terumbu’ tempat penanaman bibit jeruk itu harus sudah digemburkan terlebih dahulu dengan mencampurkan pupuk TSP sebanyak 0.5 sampai dengan 1 ons dalam masing-masing terumbu’ (asnaini 1994:27-32).
Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa jeruk Sambas benar-benar masih alami tanpa ada campur tangan teknologi serta bahan kimia lainnya untuk pencegahan penurunan kualitas jeruk seperti yanng lainnya (http://www.deptan.go.id/pesantren/ditbuah/Komoditas/Sentra/profil_jeruk_di_kabupaten_sambas.htm).
c. Mengapa Harus Citrus microcarpa ?
Berbentuk bulat dengan rasa buah yang manis keasaman, memiliki warna kulit hijau kekuningan serta warna dagingnya yang berwarna oranye, buah apakah itu? Sudah dapat ditebak dengan keunikan yang dimilikinya buah ini ialah buah jeruk Sambas (http://www.kapanlagi.com/h/0000208204.html). Karena keunggulannya, jeruk Sambas memiliki popularitas yang cukup baik di dalam maupun luar negri (ASEAN). Seperti yang kita tahu, salah satu keunggulannya adalah masa produk aktivitasnya yang cukup lama sekitar 15-20 tahun dengan Benefit Cost Ratio (BCR). Itu berarti, pohon jeruk Sambas dapat terus menghasilkan dalam kurun waktu 15-20 tahun. BCR jeruk Sambas ini merupakan yang tertinggi di Kalimantan Barat dibanding komoditas pertanian lainnya. Selain itu harga di pasaran relatif stabil dan cenderung terus meningkat (http://id.wikipedia.org/wiki/Jeruk_pontianak). Oleh karena itu, buah jeruk banyak dijumpai di Indonesia bahkan dapat menduduki seluruh wilavah di dunia.
Selama ini yang bisa diambil hasiInya dari tanaman jeruk adalah buahnya, sedangkan kulit buah tersebut dibuang begitu saja. Nilai gizi kulit jeruk cukup baik serta banyak mengandung unsur-unsur kimia berupa seng yang dapat dikembangkan untuk pembuatan plastik. Selain itu, kulit jeruk Sambas juga dapat dibuat menjadi Kalsium Karbonat dan dapat mernberikan manfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan industri pasta cat dan bedak pengisi kertas.
Mengenai pembuatan plastik, para ahli kimia di Cornell University sudah menemukan formula baru pembuat plastik di luar bahan baku minyak bumi. Ternyata, alam telah menyediakan suatu alternatif ramah lingkungan, dalam bentuk jeruk. Untuk menciptakan plastik baru yang disebut polylimonene karbonat itu, para ilmuwan memanfaatkan molekul dari dua sumber, karbon dioksida dan limonene oksida, yang berasal dari kulit buah jeruk dan tanaman lain.
Limonene adalah bahan yang selalu tersedia, demikian juga karbon dioksida. Seorang profesor kimia dari Cornell, Geoffrey Coates, menyatakan telah membuat katalisator yang memungkinkan dua macam molekul ini bersatu sebagai bahan pembuat plastik. Katalisator yang dipakai dalam proses kimia ini berupa senyawa yang mengandung sedikit seng (Zinc) yang dicampurkan dalam cairan limonene oksida dan gas karbon dioksida sehingga membentuk bubuk putih. Bubuk ini bisa dicairkan dan digunakan membuat berbagai macam barang plastic. Tim riset Cornell kini sedang melakukan uji coba untuk melihat seberapa kuat bahan ini menahan panas dan dingin. Rincian mengenai penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of the American Chemical Society (http://64.203.71.11/teknologi/news/0501/31/213903.htm)
Adapun proses pembuatan Kalsium Karbonat dilakukan dengan mengeringkan kulit buah jeruk hingga menjadi abu dan kemudian dicampur dengan asam sulfat, lalu dipanaskan dan dilarutkan dalam asam oksalat sesuai variabel, kemudian dipanaskan kembali sesuai dengan variabel suhu. Endapan yang terjadi dipanaskan pada suhu 600oC hasilnya dianalisa secara gravimetric. Adapun setiap pembuatan kalsium karbonat dengan berat abu 10 gram maka digunakan asam Sulfat 4 N : 100 ml kondisi optimum dengan konsentrasi asam oksalat 14%. Suhu yang digunakan setinggi 100oC. Sementara waktu pencampuran dilakukan sekitar 35 menit. Komposisi tersebut akan menghasilkan kalsium karbonat sebesar 94,71% (http://digilib.upnjatim.ac.id/gdl.php).
Selain produk yang telah dijelaskan di atas, jeruk Sambas dapat juga dikembangkan menjadi jus jeruk karena hasil produksinya yang banyak serta berbagai penelitian yang menunjukkan senyawa non-gizi dikandung buah jeruk yang ternyata mampu menurunkan risiko beberapa penyakit, bahkan mampu mencegah kanker. Selain vitamin C, buah jeruk juga mengandung sederet zat gizi esensial, seperti beta karoten (pro vitamin A) yang akan menjaga kesehatan mata dan kulit serta membantu pembentukan tulang. Selain itu jeruk juga mengandung thiamin (vitamin B) yang berperan sebagai tenaga bagi sistem saraf dan otak, selain itu thiamin akan mengurangi risiko katarak. Jeruk juga tidak mengandung sodium, lemak, dan kolesterol. Oleh sebab itu, pemkab Sambas mencanangkan adanya produksi jus jeruk yang diberi nama Jus Citrus van Sambas; Minuman Kesehatan Membuat Awet Muda sebagai minuman resmi Pemda dan masyarakat Kabupaten Sambas. Di komplek rumah produksi Citrus van Sambas di Desa Segedong Kecamatan Tebas, juga akan dihadiri oleh Kepala BPTP Kalbar. Bahkan, menurutnya, akan dilakukan penandatangan MoU dengan dinas dan instansi selaku pelanggan. Mereka berharap jus jeruk ini dapat menjadi lambang Kabupaten Sambas maupun Kalbar nantinya sehingga jeruk Sambas mempunyai daya saing tinggi dengan buah-buahan lain (http://www.pontianakpost.com/index.php).
Produk yang tidak kalah populernya ialah minyak wangi. Sebuah penelitian mengenai wewangian menunjukkan bahwa bau harum sejenis jeruk bali yang dipakai wanita akan membuatnya tampak lebih muda di mata para pria yakni sekitar enam tahun lebih muda. Dengan ini mengapa tidak kita ganti saja aroma jeruk Bali dengan Aroma terapi jeruk Sambas yang akan dikenal lebih elegan. Sebuah penelitian yang dilakukan Institut Rasa dan Bau di Chicago dimaksudkan untuk mencari tahu apa yang membuat seorang wanita berbau lebih muda, tapi tidak kekanak-kanakan seperti bau permen karet. Akan tetapi ketika Hirsch menyemprotkan bau jeruk, persepsi para pria segera berubah. Ketika mereka diminta menebak usia para wanita yang menebarkan wangi jeruk itu, kebanyakan mencantumkan usia lebih muda dari kondisi sebenarnya rata-rata enam tahun lebih muda.
Ini membuat Hirsch berkesimpulan, wangi jeruk akan memberi persepsi muda. Barangkali kesegaran jeruk dianalogikan sebagai kemudaan oleh para pria. Oleh karena itu, bila Anda ingin dikesan lebih muda, gunakanlah wewangian yang beraroma jeruk, bisa sitrun, bergamot, tangerine, dan lainnya (http://64.203.71.11/teknologi/news/0506/22/121720.htm).
Oleh sebab itu, sudah sepantasnya kita sebagai generasi muda mulai memberanikan diri untuk terjun ke bidang industri dalam pengembangan jeruk agar kita tidak lagi bergantung terhadap produksi luar negri, seharusnya industri di luar negrilah yang bergantungan kepada kita. Lagi pula bahan-bahan yang dihasilkan di ekspor dari negeri kita juga kan !.
Dengan banyaknya jenis produksi yang bisa dihasilkan dari jeruk maka keberadaan Citrus Center sebagai pusat riset dan pengembangan komoditas jeruk di Kabupaten Sambas dibutuhkan untuk lebih mengembangkan hasil produksi dari jeruk Sambas. Melalui fasilitasi dan bimbingan yang diberikan, banyak petani jeruk di Sambas yang bisa meraup keuntungan lebih. Pada kegiatan safari Ramadan lalu, Gubernur Kalbar, Cornelis sempat meninjau langsung lokasi Citrus Center di Kecamatan Semparuk, Sambas. Meski masih dalam proses pengembangan dan pembangunan beberapa fasilitas pendukung lainnya, keberadaan Citrus Center sendiri sudah beroperasi beberapa tahun lalu (http://corneliscenter.blogspot.com/2008/09/citrus-center-buktikan-industri-jeruk.html)
JAWABAN DARI KRISIS KOMODITAS KAL-BAR SELAMA INI!
Bupati Sambas Burhanuddin Ar Rasyid menyatakan bahwa pemerintah Kabupaten Sambas mengharapkan Citrus center menjadi pusat perjerukan bukan saja di Kalbar, tetapi juga di Indonesia. Sebab, inilah pusat penelitian, pengembangan, dan produksi jeruk yang terpadu juga dapat membantu petani jeruk dalam mengatasi persoalan tentang perjerukan. Sehingga dapat menunjang mereka serta juga bisa diperkenalkan pula tentang penanaman dengan teknologi terkini dalam bentuk pengaturan tentang pemupukan hingga pemasaran. Walaupun, terdapat beberapa kendala seperti, pemasaran yang sedikit terhambat juga hasil produksi yang dihasilkan jeruk Sambas tidak sepanjang tahun.
Salah satu kendala pemasaran jeruk di Kalimantan ialah infrastruktur jalan yang buruk. Kalbar merupakan satu-satunya provinsi yang belum terhubungkan dengan provinsi lain melalui jalan darat. Sehingga jika pemasaran antar-Kalimantan itu sendiri akan lebih mahal dibandingkan ke Pulau Jawa. Ini diakibatkan karena distributor harus menggunakan penerbangan ke Jakarta terlebih dahulu sebelum ke daerah lain di Kalimantan.
Selain itu, seharusnya pemasaran jeruk juga dapat dilakukan ke kawasan pedalaman Kalbar. Namun, sarana transportasi darat menuju pedalaman masih hancur (http://64.203.71.11/kompas-cetak/0605/05/daerah/2630610.htm). Hal Inilah yang merupakan salah satu kendala yang menyebabkan adanya ketidak makmuran para petani perkebunan Jeruk Sambas.
Pada pemasaran ini harus diadakan pengembangan produk turunan yang berupa olahan-olahan yang berguna. Maka peluang dalam pengolahan jeruk ini bisa lebih dikembangkan dalam membentuk produk-produk seperti yang ditemukan oleh orang-orang dari luar negri. Oleh sebab itu, kita harus lebih produktif dalam pengembangan produk. Seperti membuat aroma sabun mandi yang berjudul aroma jeruk sambas yang mungkin saja akan lebih diminati kaum wanita baik tua maupun muda. Tidak hanya itu, kita juga bisa membuat sampo dari kulit jeruk Sambas, yang telah diteliti bahwa kulit jeruk sambas dapat memperkuat rambut agar tidak cepat rontok karna mengandung seng.
Kendala lainnya, yaitu hasil produksi yang tidak didapat sepanjang tahun, ini disebabkan karena cuaca serta tidak adanya peremajaan pada pohon tersebut sehingga produktivitas tanaman menurun yang juga menyebabkan hancurnya perdagangan jeruk. Padahal jika diamati dengan seksama sifat fisika tanah tempat sentra produksi jeruk umunya adalah tanah yang memiliki porositas dan drainase yang baik. Seperti halnya di tanah Khatulistiwa Kalimantan Barat (www.damandiri.or.id/detail.php).
Jadi untuk mengembangkan jeruk Sambas menjadi komoditas unggulan Kalbar maka diperlukan dukungan pemerintah pusat dan daerah. Dukungan terbesar diharapkan dapat membantu petani dalam pengembangan tanaman jeruk Sambas khususnya mengenai pengadaan bibit bermutu (okulasi) dan pupuk serta penetapan peraturan pemerintah dalam hal standar harga buah jeruk dan jaminan pemasaran (http://www.deptan.go.id/pesantren/ditbuah/ Komoditas/Sentra/profil_jeruk_di_kabupaten_sambas.htm).
Lagi pula jika Jeruk Sambas bisa lebih mendunia ini merupakan peluang besar untuk kaum muda yang belum memiliki pekerjaan. Hal ini juga bisa membantu dalam pengurangan angka pengangguran di daerah-daerah tersebut.
Suku Sambas
Suku Sambas
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Suku Melayu Sambas
Jumlah populasi
kurang lebih 700.000.
Kawasan dengan populasi yang signifikan
Kabupaten Sambas
Bahasa
Indonesia, Melayu, dan lain-lain.
Agama
Islam
Kelompok etnik terdekat
Dayak, Melayu
Suku Sambas (Melayu Sambas) adalah suku bangsa atau etnoreligius Muslim yang berbudaya melayu, berbahasa Melayu dan menempati sebagian besar wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kota Singkawang dan sebagian kecil Kabupaten Pontianak- Kalimantan Barat. Suku Melayu Sambas terkadang juga disebut Suku Sambas, tetapi penamaan tersebut jarang digunakan oleh masyarakat setempat.
Secara liguistik Suku Sambas merupakan bagian dari rumpun Suku Dayak, khususnya dayak Melayik yang dituturkan oleh 3 suku Dayak : Dayak Meratus/Bukit (alias Banjar arkhais yang digolongkan bahasa Melayu), Dayak Iban dan Dayak Kendayan (Kanayatn). Tidak termasuk Banjar, Berau, Kedayan (Brunei), Senganan, Sambas yang dianggap berbudaya Melayu. Sekarang beberapa suku berbudaya Melayu yang sekarang telah bergabung dalam suku Dayak adalah Kutai, Tidung dan Bulungan (keduanya rumpun Borneo Utara) serta Paser (rumpun Barito Raya).
Pada awalnya Sambas bukanlah nama suku, akan tetapi nama tempat/wilayah dan nama Kerajaan yang berada tepat di pertemuan 3 sungai yaitu sungai Sambas Kecil, sungai Subah dan sungai Teberau yang lebih dikenal dengan Muara Ulakan. Seluruh masyarakat asli Kalimantan sendiri sebenarnya adalah Serumpun, Antara Ngaju, Maanyan, Iban, Kenyah, Kayatn, Kutai ( Lawangan - Tonyoi - Benuaq ), Banjar ( Ngaju, Iban , maanyan, dll ), Tidung, Paser, dan lainnya. Hanya saja Permasalahan Politik Penguasa dan Agama menjadi jurang pemisah antara keluarga besar ini. Mereka yang meninggalkan kepercayaan lama akhirnya meninggalkan adatnya karena lebih menerima kepercayaan baru dan berevolusi menjadi Masyarakat Melayu Muda. Khususnya dalam Islam maupun Nasrani, hal - hal adat yang bertolak belakang dengan ajaran akan ditinggalkan. Sedangkan yang tetap teguh dengan kepercayaan lama disebut dengan Dayak. Adat-istiadat lama Suku Melayu Sambas banyak kesamaan dengan adat-istiadat Suku Dayak rumpun Melayik misalnya; tumpang 1000, tepung tawar, dan lainnya yang bernuansa Hindu.
Secara administratif, Suku Sambas merupakan suku baru yang muncul dalam sensus tahun 2000 dan merupakan 12% dari penduduk Kalimantan Barat, sebelumnya suku Sambas tergabung ke dalam suku Melayu pada sensus 1930. Sehubungan dengan hal tersebut kemungkinan "Dialek Melayu Sambas" meningkat statusnya dari sebuah dialek menjadi bahasa kesukuan yaitu Bahasa Suku Sambas.
Perubahan Suku Sambas secara drastis setelah masuk Islam, hampir menghapus jejak asal muasalnya yaitu Suku asli yang mendiami pulau Kalimantan. Kebudayaan Melayu yang dianggap lebih "beradab", membantu menghilangkan budaya Dayak pada Suku Sambas dengan cepat. Sehingga Sambas yang dahulunya beragama Hindu Kaharingan kehilangan jejak Kaharingan, walaupun sebagian kecil ada yang tersisa. Akibatnya orang lebih yakin Sambas adalah Melayu, padahal tidaklah demikian. Tentu saja segala hal dalam adat lawas dianggap syirik (bertentangan dengan agama) jadi harus dimusnahkan dan ditinggalkan.
Sulitnya data semakin mempersulit para peneliti untuk mencari jejak asal muasal Suku Sambas. Membuat hasil penelitian terlihat ambigu bahkan samar. Peneliti seringkali mengklasifikasikan berdasarkan bahasa, sedangkan menurut orang Kutai dan Tunjung-Benuaq mengenal tradisi lisan yang mengklasifikasikan golongan berdasarkan budaya dan sejarah budayanya serta geneologi. Oleh karena itulah Suku Sambas diklasifikasikan ke dalam suku Dayak berbudaya Melayu.
Namun, berdasarkan kajian dengan pendekatan sejarah, asal usul masyarakat yang sekarang disebut Melayu Sambas adalah hasil asimilasi beberapa suku bangsa di Nusantara yaitu yang sekarang disebut Melayu Sambas adalah asimilasi dari Orang Melayu (yang datang dari Sumatera sekitar abad ke-5 M hingga 9 M pada masa Kerajaan Malayu atau masa awal Kerajaan Sriwijaya), Orang Dayak (penduduk lebih awal yang secara turun temurun sebelumnya telah mendiami Sungai Sambas dan percabangannya), Orang Jawa (yaitu serombongan besar Bangsawan Majapahit keturunan Wikramawardhana bersama para pengukutnya yang melarikan diri secara boyongan dari Majapahit karena perang sesama Bangsawan di Majapahit pada awal abad ke-15 M yang kemudian mendirikan sebuah Panembahan di wilayah Sungai Sambas) serta Orang Bugis (para Nakhoda dan pembuat kapal bersama keluarganya dari Sulawesi yang kemudian membentuk sebuah perkampungan Bugis yang bekerja untuk Sultan-Sultan Sambas di masa awal dan pertengahan Kesultanan Sambas).
Masyarakat Melayu Sambas secara Budaya dan Intelektual adalah yang terkemuka di Kalimantan Barat, beberapa budaya Melayu Sambas yang masih populer di kalangan Masyarakat Kalimantan Barat dari dulu (masa Kerajaan) hingga sekarang diantaranya adalah Kain Khas yaitu yang disebut Kain Sambas / Kaing Lunggi / Kain Songket Sambas, Makanan Khas yang disebut Bubbor Paddas / Bubur Pedas (dengan khas menggunakan daun Kesum / daun Kesuma), Lagu-Lagu Daerah Sambas (dari masa lampau / Kerajaan) sangat mendominasi khazanah lagu-lagu daerah di Kalbar hingga sekarang disamping Lagu-lagu daerah Dayak dan banyak lagu-lagu daearah Sambas itu adalah berstatus anonim yang tidak diketahui siapa pembuatnya karena sudah begitu lama yang dilantunkan secara turun temurun dari generasi ke generasi seperti Lagu Alok Galing, Cik cik Periuk, Kapal Belon dan lainnya, Tarian Daerah Khas Sambas seperti Tandak Sambas, Jepi dan lainnya.
Pada masa Kerajaan (Kesultanan Sambas) masyarakat Melayu Sambas juga terkenal sangat Agamis (Islam) yang paling terkemuka di Kalimantan Barat sehingga sempat disebut sebagai "Serambi Makkah" Kalimantan Barat dimana jejak kejayaan itu yang masih nampak pada sekitar tahun 80-an dimana Qori-qori dari Sambas cukup mendominasi dalam mewakili Kalimantan Barat di tingkat Nasional dan Internasional.
Sedangkan di masa Kerajaan, Kesultanan Sambas adalah sebuah Kerajaan Maritim (Pesisir) yang sempat menjadi Kerajaan terbesar di wilayah Borneo Barat (Kalimantan Barat) selama sekitar 100 tahun (dari awal tahun 1700-an hingga awal tahun 1800-an). Urutan Kerajaan-Kerajaan terbesar di Kalimantan Barat dari awal adalah Kerajaan Tanjung Pura yang setelah runtuh dilanjutkan oleh Kesultanan Sukadana, lalu ketika Kesultanan Sukadana melemah posisi Kerajaan terbesar di Kalimantan Barat itu dipegang oleh Kesultanan Sambas yang kemudian setelah masuknya Belanda ke wilayah Kalimantan Barat pada tahun 1818 posisi Kerajaan terbesar di Kalimantan Barat beralih dipegang oleh Kesultanan Pontianak. Kesultanan Sambas berdiri pada tahun 1671 M yang kemudian memerintah selama sekitar 279 tahun melalui Pemerintahan 15 Sultan-Sultan Sambas dan 2 Ketua Majelis Kesultanan Sambas secara turun temurun hingga kemudian berakhirnya Pemerintahan Kesultanan Sambas dengan bergabung ke dalam Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun 1950.
Kabupaten Sambas terkenal dengan sebuah peninggalan sejarah yaitu sebuah keraton peninggalan Kesultanan Sambas. Penduduknya mayoritas melayu, dan berbahasa melayu. Sebagian besar bahasa yang digunakan adalah sama. Bahasa Melayu sangat mudah dipahami, apalagi bagi orang yang mendengar orang Betawi berbicara, karena kurang lebih bahasa Betawi dan Melayu sama, misalnya: Seseorang berbicara, "Kamu mau ke mana?", jika dalam bahasa melayu "Kau nak ke mane", (penyebutan "e" dalam bahasa melayu, sedangkan bahasa suku Sambas membunyikan "e" seperti bunyi pada kata "lele". Keunikan lain dari bahasa Melayu Sambas adalah pengucapan huruf ganda seperti dalam Bahasa [Melayu] Berau di Kalimantan Timur, seperti pada kata 'bassar' (artinya besar dalam bahasa indonesia).
Tradisi Jamuan Makan Saprah Masyarakat Melayu Sambas
Tradisi Jamuan Makan Saprah Masyarakat Melayu Sambas
Tradisi makan ber-Saprah sangat akrab dalam tradisi masyarakat Melayu Sambas. Masyarakat Melayu Sambas secara teritorial mendiami kawasan sepanjang pesisir pantai utara Kalimantan Barat. Tradisi ber-Saprah biasanya di lakukan pada acara-acara tertentu, seperti acara pernikahan, acara tepung tawar, sunatan, antar pinang, selamatan dan acara lainnya.
Jamuan Makan Berkelompok
Jamuan makan Saprah masih bisa ditemukan dalam tradisi masyarakat melayu Sambas hingga kini. Kata Saprah sendiri merupakan ungkapan untuk menggambarkan jamuan makan khas melayu yang dilakukan secara berkelompok dengan duduk bersila di lantai. Dalam beberapa jamuan Saprah dapat ditemukan kelompok sepanjang 2 x 28 meter hingga 2 x 40 meter, tergantung dengan jumlah orang yang diundang oleh tuan rumah yang punya hajatan dan ‘tarub’ (tenda) yang disediakan. Jamuan untuk undangan pria dan wanita dilaksanakan di tempat yang sama, namun dalam waktu yang berbeda. Lazimnya jamuan Saprah dilaksanakan untuk undangan pria terlebih dahulu.
Undangan pria
Undangan wanita
Makan bersaprah tidak memapakai sendok, jadi harus dengan tangan. Makanya disediakan air cuci tangan. Setelah semuatamu mendapat hidangan baru jamuan boleh dimakan. Ini menunjukan wujud kebersamaan. Selain makanan, ciri khas yang disajikan adalah air ‘sapang’ yaitu air berwarna teh dengan aroma khas yang terbuat dari rendaman kayu Sapang.
Harus Berjumlah Lima dan Enam
Walaupun tidak ada referensi yang dapat menyebutkan secara pasti sejak kapan tradisi Saprah dimulai, namun banyak pihak yang mengaitkan tradisi ini dengan ajaran Islam sebagai agama yang dianut masyarakat Melayu Sambas. Karena itu makna yang dapat diungkapkan dari makan ber-Saprah tidak lepas dari ajaran agama Islam, seperti jenis makanan dalam setiap kelompok harus berjumlah 5 (lima) yang melambangkan jumlah rukun Islam. Sedangkan jumlah orang dalam satu saprah harus berjumlah 6 (enam) orang yang melambangkan jumlah rukun iman dalam agama Islam.
Lima jenis makanan
Enam orang dalam satu saprah
Demikian pula dengan dengan jumlah pengantar makanan yang juga harus berjumlah 6 (enam) orang. Khusus untuk pengantar makanan, cara berjalan membawa nampan, menghidangkan makanan dan berbalik arah semuanya teratur, tidak boleh membelakangi undangan.
Kelompok pengantar makanan berseragam
Peran Penyambut Tamu
Adat tuan rumah adalah menghormati tamu. Agar seluruh tamu yang datang semuanya mendapat penghormatan dan penghargaan yang selayaknya dari tuan rumah, maka peran penyambut tamu menjadi penting dalam sebuah jamuan makan ber-Saprah. Penyambut tamu dituntut untuk mengenal seluruh tamu yang diundang. Penyambut tamu bertugas menyambut tamu yang datang sekaligus mengantarkan tamu ke tempat duduknya. Tempat duduk tamu ditentukan dari status sosialnya di masyarakat, yang disusun mulai dari tempat paling ujung di dalam ‘tarub’. Mereka adalah kelompok yang telah menunaikan ibadah haji dan menjadi panutan, selanjutnya adalah kerabat Raja dan keturunannya, diikuti oleh tokoh dan pemuka masyarakat dan seterusnya.
Menu Botok Khas Sambas Kalimantan Barat
Menu Botok Khas Sambas Kalimantan Barat
Hasil kreatifitas masyarakat terhadap masakan semakin beranekaragam baik dahulu maupun sekarang. Untuk memenuhi kebutuhan akan rasa masakan memang sering lakukan eksperimen agar hasil masakan dapat dinikmati dengan lahap. Salah satu kreasi masakan khas masyarakat Sambas Kalimantan Barat (Kalbar) adalah botok yang berbahan dasar ikan. Bentuk botok hampir menyerupai masakan pepes ikan namun rasanya berbeda dan cara penyajiannya yang berbeda. Yang membedakan botok ikan Kalbar dengan botok ikan dari daerah lain di Nusantara adalah botok dibungkus dengan daun mengkudu serta bumbu dasar yang khas.
Botok akan terasa nikmat dan gurih jika mengunakan ikan pilihan seperti ikan ketutu sungai, ikan gabus (Ruwan/ delak, bahasa lokal.red), ikan toman, dan ikan kaloi. Tetapi ikan-ikan lain juga bisa digunakan dalam pembutan botok seperti ikan tongkol, tenggiri maupun ikan patin. Untuk mendapatkan rasa ikan yang unik dan khas, ikan setelah dibersihkan dipotong-potong sesuai selera kemudian dimasukkan ke dalam toples dengan menambahkan garam dan nasi secukupnya agar aroma daging ikan menjadi khas. Daging ikan didalam toples dibiarkan beberapa hari antara 2-3 hari sampai dagingnya agak lunak dan jangan sampai busuk, kemudian baru diolah menjadi masakan botok.
Bahan-bahan:
1 kg daging ikan
Daun mengkudu yang masih muda (secukupnya)
3 s/d 5 lembar daun kunyit yang masih muda
15 lembar daun kesum
Serai 3 batang
650 ml santan kelapa
2 buah kelapa yang sudah diparut
½ sdm asam jawa
Cabe kering secukupnya
Gula merah 1 ons
Minyak makan untuk menumis
Bumbu :
6 siung bawang putih
4 bh bawang merah
1 ruas jari jahe
1 ruas jari kunyit
3 bh kemiri/ keminting
Ketumbar 10-15 biji
Micin dan Garam secukupnya
Penyedap masakan.
Cara membuatnya:
Bersihkan daging ikan yang ada di dalam toples
Daun kunyit dan daun kesum diiris halus
Parutan kelapa di oseng-oseng sampai kuning kemudian ditumbuk sampai halus
Bawang merah, bawang putih, ketumbar, keminting, serai, cabe kering, ditumbuk sampai halus dan tumis dengan minyak makan di tambah micin dan garam secukupnya.
Bumbu di atas yang sedang ditumis ditambah air asam jawa, gula merah, diaduk sampai rata kemudian masukkan daging ikan yang telah disiapkan.
Setelah daging ikan setengah matang kemudian tambahkan daun kunyit dan daun kesum serta taburi dengan kelapa parur yang telah dioseng dan dihaluskan.
Setelah ikan dirasakan telah matang, diangkat dan dibungkus dengan daun mengkudu
Bungkusan botok masukkan ke dalam rebusan santan (api jangan terlalu besar), aduk terus sehingga ikannya menjadi empuk (masak) dan bumbunya meresap serta kuah santannya agak mengental.
Untuk menghidangkan buang benangnya dan atur di piring lalu siramkan kuahnya.
Disantap akan terasa nikmat apabila nasi dan botok disanjikan dalam keadaan panas.
Taek Lallak, (Tahi Minyak Kelapa) Pembuka Nafsu Makan Khas Melayu Sambas
Taek Lallak, (Tahi Minyak Kelapa) Pembuka Nafsu Makan Khas Melayu Sambas
Penulis : ANTS EDUCATION on Kamis, 27 Juni 2013 | 08.47
Taek Lallak (tahi minyak)
Minyak makan atau minyak masak adalah salah satu kebutuhan bahan pokok dapur sebagai bahan untuk memasak. Bahan untuk membuat minyak masak (minyak makan) ini terbuat dari buah kelapa atau buah kelapa sawit. Orang Sambas pada umumnya yang mempunyai kebun kelapa yang luas, sering membuat minyak masak (minyak makan) dengan cara manual, yaitu diparut secara tradisonal. Saat ini dengan kemajuan teknologi mesin untuk memarut kelapa sudah diciptakan, maka mereka pun memanfaatkan mesin tersebut. Biasanya buah kelapa yang dibuat oleh mereka berkisar 100-300 biji buah kelapa.
Salah satu pengrajin minyak kelapa atau minyak makan di Desa Sepinggan Kecil, Kecamatan Semparuk adalah Bapak Saputra, S.Pd yang mempunyai kebun kelapa lumayan luas dengan 1.000 batang pohon kelapa. Setiap tiga bulan sekali, selain dibuat kopra, bapak Saputra membuat minyak kelapa sendiri dengan dibantu oleh adiknya yang masih sekolah dibangku SMK di Singkawang.
Tahi lallak ini adalah kerak dari minyak kelapa tersebut yang berasal dari santan kelapa yang sudah matang dan mengering karena dimasak di dalam kuali, singkat katanya taek lallak ini merupakan ampas minyak kelapa. Setelah minyak dituskan (ditiriskan) maka tahi lallak tersebut akan terpisah dari minyak tersebut. Setelah itu tahi lallak tersebut dapat dimasak sesuai selera. Campuran atau bahan-bahan untuk memasak tahi lalallak adalah:
1. Taek lallak secukupnya.
2. Cabe merah (cabek karring) 5 buah.
3. Minyak makan secukupnya.
4. Bawang merah atau bawang putih (sesuai selera).
5. Daun kesum segenggam (secukupnya).
6. Penyedap rasa (masako atau mecin).
7. Garam secukupnya.
8. Air secukupnya.
9. Udang (jika ada) atau dicampur ikan betok, ikan apa saja sesuai selera. Jika tidak ada sama sekali, dicampur ikan teri saja sudah cukup.
10. Terung pipit (jika ada). Tapi diusahakan ada, karena semakin enak rasanya.
11. Pucuk mengkudu secukupnya (buat lalap) enak rasanya.
Caranya: Tahi lallak ditumbuk hingga halus, kemudian tumbuk cabe merah dan bawang hingga halus. Daun kesum dipotong (dihiris kecil-kecil), setelah itu panaskan minyak makan di dalam kuali. Setelah minyak panas, maka masukkan (tumis) cabe merah dan bawang, setelah harum dan matang, masukkan tahi lallak dan air secukupnya, setelah itu masukkan mumbu (penyedap rasa), udang atau ikan teri (ikan lainnya sesuai selera), terung pipit dan pucuk mengkudu.
Setelah semuanya menyatu di dalam kuali, biarkan hingga mendidih hingga keluar aroma yang sangat harum dari bau daun kesum serta taek lallak (tahi minyak kelapa) tersebut. Setelah matang, angkat dan dinginkan serta sajikan di atas meja makan. Rasanya enak dan menambah nafsu makan.
Sebut saja namanya Elsa Hariani Firniawaty, ia adalah seorang mahasiswa pada salah satu Univeritas yang ada di Provinsi Kalimantan Barat. Ia megaku dan tidak pernah rasa malu untuk memakan (konsumsi) taek lallak ini sebagai menu utamanya. Lebih asik baginya jika campuran taek lallak ini dengan terung pipit. Setiap pulang dari Pontianak, ia selalu ingin dibuatkan masakan taek lallak sama ibunya. Untung saja di Kota Singkawang masih mudah untuk mencari taek lallak (tahi minyak kelapa). Jika ia pulang ke Pontianak, maka ia akan membawa makanan khas Sambas ini ke Ibukota Provinsi Negeri Khatulistiwa. Jika ada taek lallak, maka selera makan Elsa semakin tinggi, ia merasa senang sekali dapat mengkonsumsi makanan daerah kelahiran orang tua dan kakeknya yang berasal dari Sambas (Pantai Jawai dan Sei Kelambu).
Perlu anda ketahui, secara ilmiah, air bekas perahan minyak yang tidak terpakai, sebenarnya dapat digunakan untuk membersihkan perabotan rumah tangga yang sudah lama berkarat. Masukkan saja semua perabotan yang berkarat, misalnya sendok, mangkok, pinggan, baskom, atau barang-barang yang terbuat dari tembaga atau stanles, rendam sekitar 30 menit. Insa Allah karatan atau warna yang tadinya kusam akan cerah kembali. Air tersebut ibaratnya seperti braso atau pemutih (jika untuk pakaian).
Selamat mencoba makanan Taek Lallak, (Tahi Minyak Kelapa) Pembuka Nafsu Makan Khas Melayu Sambas.
Taek Lallak (Tahi Minyak Kelapa) yang penulis maksud disini adalah ampas minyak kelapa yang didapatkan dari olahan untuk membuat minyak kelapa,. jadi bukan tahi dalam makna kata sebenarnya itu hanya sebutan untuk Ampas Minyak kelapa dalam bahasa melayu sambas
Read more: http://www.cakrawawasan.com/2013/06/taek-lallak-tahi-minyak-kelapa-pembuka.html#ixzz2mhL9zOey
Masakan Khas Melayu Sambas, Tanak Lade
Masakan Khas Melayu Sambas, Tanak Lade
Melayu, memang identik dengan khasanah budaya yang beragam dan tradisional. Tak terkecuali soal masakannya. Sebut saja, sambal lado, bubur pedas, bubur sumsum, sayur keladi dan berbagai masakan lainnya.
Demikian pun melayu sambas- menyimpan khasanah masakan khas yang tak kalah enak dan mak nyos -meminjam kata kuliner kawakan Pak Bondan Winarno di sebuah siaran televisi nasional. Kali ini saya persembahkan masakan tanak lade.
Baiklah, ini sebenarnya masih kelanjutan dari wisata pasar beringin sebelumnya, aku dan istri membeli ikan kecil, ikan kerisi begitu biasa kami menyebutnya. Kami berencana membawa pulang dan akan membuat masakan khas tadi, yang sebenarnya sudah lama tidak kami rasakan lagi.
Apa itu tanak lade? Tanak bisa diartikan masakan, memasak. Sedangkan lade, adalah rempah yang kita sering sebut lada. Namun untuk keperluan ini kita menggunakan lada hitam, lada yang berwarna hitam karena berasal dari lada hijau yang dikeringkan sehingga menjadi hitam.
Selanjutnya lada hitam (kira-kira segenggam) tadi dihaluskan terlebih dahulu, kemudian ditambah bumbu lain seperti bawang merah (2 siung), bawang putih (2 siung), jahe (seiris), kunyit (satu centi), lengkuas (seibu jari), garam (secukupnya) dan bumbu penyedap (secukupnya) kemudian dihaluskan lagi.
Siapkan penggorengan dan masukkan sedikit minyak goreng, setelah agak panas masukkan bumbu yang telah dihaluskan tadi sambil diaduk pelan sampai tercium bau harum, lalu masukkan sebatang serei yang telah dimemarkan dan ikan kerisi yang telah dibersihkan. Kemudian tambahkan sedikit air. Tunggu dan sambil diaduk pelan hingga mendidih dan tercium aroma khas tanak lade.
Masakan ini enak disantap saat masih panas sebagai lauk pauk makan nasi putih pada siang atau malam hari. Masakan ini juga sering dipakai sebagai lauk bagi seorang ibu yang baru melahirkan, namun biasanya tanpa ikan hanya lada hitam dan dibuat sedemikian hingga tampak tanpa air atau kering.
Mau mencoba memasak dan mencicipi? segera ke pasar dan cari bahan-bahannya.
Bubur Pedas
Bubur Pedas
Bubur pedas adalah bubur yang terbuat dari berbagai macam sayur yang diiris halus-halus serta diberi bumbu dari beras yang sudah dihaluskan serta diberi santan kelapa. Bubur pedas ini adalah makanan khas Melayu Sambas khususnya, Kalimantan Barat pada umumnya.
Bubur pedas ini ternyata tidak hanya ada di Sambas, Singkawang, Bengkayang, Mempawah, dan Pontianak. Ternyata bubur pedas ini ada juga di Negeri Jiran yaitu Sarawak, Malaysia. Menurut informasi dari para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) atau TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang berasal dari Kalimantan Barat (Sambas, Singkawang, Bengkayang, Mempawah, dan Pontianak serta Sintang) mengkhabarkan bahwa Malaysia (Sarawak) telah mengklaim bahwa “bubur pedas” itu adalah milik mereka, punya mereka, berasal usul dari Malaysia.
Berdasarkan keterangan di atas bahwa semua itu tidak benar, permasalahan malaysia Negeri Jiran tersebut memang suka mengklaim produk-produk asli Indonesia. Sebenarnya Negeri Jiran (Malaysia) mengklaim “bubur pedas” ini, sejak tahun 2009 sebagai acara tradisional mereka. Mengapa sekarang permasalahan “mengklaim” itu terulang kembali? Apa yang menyebabkan mereka seperti itu, dan apa yang mereka inginkan dari Indonesia? Nanti bisa kualat lho... kenapa? Karena Indonesia adalah guru bagi “Negeri Jiran”, hormatilah guru, hargailah guru yang telah menjadikan kamu sukses dan berilmu.
Bukan hanya bubur pedas yang mereka klaim milik mereka, sate, batik, tari, cerita rakyat, pulau, dan entah apa lagi dikemudian hari. Sebenarnya “bubur pedas” ini adalah asli dari Kebudayaan Sambas (Kesultanan Sambas) Kalimantan Barat, Indonesia.
Kami juga mendapatkan artikel di wikipedia yang dikenal sebagai sumber artikel terpercaya juga dengan jelas menyatakan bahwa bubur pedas merupakan masakan khas negara Malaysia yang menjadi favorit masyarakat Sarawak saat Ramadhan. anda bisa lihat disini http://en.wikipedia.org/wiki/Malaysian_cuisine
Anda juga bisa melihat di website resmi malaysia mengenai resep / masakan di myresipi.com yang dengan jelas menyatakan bahwa bubur pedas merupakan kuliner dari negeri Sarawak. Berikut merupakan cuplikan kata yang kami ambil dari website malaysia di myresipi.com : "masakan (bubur Pedas) negeri burung kenyalang (Sarawak) ini pada kebiasaannya menjadi sajian utama paling istimewa hanya di bulan Ramadhan". anda bisa lihat disini http://www.myresipi.com/top/detail/1130
Di bawah ini adalah rempah-rempah atau bahan bubur pedas Sarawak Malaysia.
1. 1 pek bumbu bubur pedas ( campuran beras,rempah ratus dan kerisik).
2. 3 ulas bawang merah (ditumbuk).
3. 2 ulas bawang putih (ditumbuk).
4. Cili blend.
5. Sedikit udang, ayam/daging.
6. Jadung muda (dipotong bulat).
7. Kacang panjang (dipotong bulat).
8. Kentang (dipotong dadu).
9. Carrot (dipotong dadu).
10. Santan.
11. Daun kunyit.
12. Daun singkil/daun tebawan.
Cara memasak:
1. Rendam bumbu hingga kembang.
2. Tumis bawang2 dan cili merah blend.
3. Masukkan udang hidup, daging/ayam.
Read more: http://www.cakrawawasan.com/2013/06/bubur-pedas-khas-sambas-west-borneo-di.html#ixzz2mhJk9LKy
13.51
Unknown



